Berkatalah penyair kecil bahwa puisi-puisinya sudah dikirimkan ke berbagai media sastra. Tapi hasilnya selalu ditolak. Dan penyair kecil atas kesombongannya, mengatakan bahwa redaktur-redaktur sastra itu tidak mengerti bahwa puisinya sangat bagus dan seharusnya layak dimuat.

Penyair besar kemudian tertarik membaca salah satu puisi karya penyair kecil.
Senja
Namanya tidak penting
Sudah hampir seminggu jadi senja
Amat bisunya sejarah: kuketuk pintunya dan aku menunggu
Membaca penggalan puisi penyair kecil, penyair besar tampak curiga dengan bait-bait itu.
Budi Darma dengan indah menggambarkan perasaan penyair besar dengan kalimat seperti ini: Sajak ini masih panjang. Tapi ada satu perasaan aneh yang menyebabkan penyair besar tidak membaca baris-baris lanjutannya. Wajah penyair besar agak berubah, kemerah-merahan, tapi juga kepucat-pucatan.

Lantas penyair besar segera meminta pendapat penyair kecil tentang puisi karangannya itu. Dengan bangga penyair kecil bialang puisinya sangat indah.
“Indah. Sajakku ini sangat indah. Ketika kukirimkan ke Horison, ditolak. Semua orang-orang Horison rupanya goblok. Apa sih, taunya Mochtar Lubis mengenai sajak, mengenai puisi? Orang semacam itu sebaiknya dimasukkan ke dalam penjara lagi. Apa sih macam H.B. Jassin itu, apakah dia betul-betul tahu sajak? Dan Zaini itu tai. Dan Taufiq Ismail itu penyair sok, dan Arief Budiman itu orang yang sok tahu seni, dan Goenawan Mohamad itu apa-apaan menjadi penulis segala, mengapa tidak jadi wartawan biasa saja?” (Hal 22-23).

Begitulah penyair kecil dituliskan Budi Darma sebagai orang yang mengatai redaktur sastra yang tidak becus dan lain sebagainya. Karena sajaknya selalu ditolak.
Penyair besar lalu mempertanyakan lagi bahwa benarkah itu sajak-sajak penyair kecil? Penyair kecil yakin bahwa itu memang karyanya.

Penyair besar kemudian bilang terus terang sambil meminta maaf sebelumnya, bahwa sajak penyair kecil adalah hasil jiplakan. Dan jika jiplakan, bukankah penyair kecil adalah pencuri?
Dibilang begitu tentu saja penyair kecil sedih. Penyair besar kemudian menguliti baris demi baris sajak yang diakui karya penyair kecil itu.

Kata penyair besar: “Baris pertama sajakmu itu kalau tidak keliru kauambil dari salah satu permulaan cerpennya B. Sularto.”
Penyair besar masih menguliti sajak itu. Bahwa sebagian besar baris kedua diambil dari permulaan cerpen yang dimuat di majalah sastra dan jika tidak keliru cerpen itu dimuat dengan ilustrasinya Arief Budiman. Dan baris ketiga, dikatakan penyair besar, kalau tidak keliru kau ambil dari salah satu sajaknya Goenawan Mohamad.
Bahkan saat penyair besar membaca sajak penyair kecil yang lain, terdapat sajak yang persis sama dengan sajak milik penyair besar. Dalam sajak penyair besar si perempuan dilukiskan dengan pendek, tapi penyair kecil mengubahnya jadi panjang.
Percakapan pun tak berhenti di sini. Penyair kecil meski sudah dinasehati dan diberi tahu, masih saja dia keras kepala dan tak mau mengakuinya. Penyair kecil bilang: “Biarlah kalau kau sangka aku menulis sama dengan sajakmu. Terserah kamu. Ya, terserah kamu.”


