Akbar tersenyum puas. Tangan kirinya terus menghitung bulatan-bulatan tasbeh. Sementara tangan kanannya mengelus-elus perutnya yang buncit. Kedua matanya tertutup perlahan. Punggungnya menyender ke kursi Jepara. Dari mulutnya terdengar suara keras.
“Maaf, Bapaknya kecapean,” istri Akbar melempar senyum.

Orang-orang memaklumi. Satu-persatu mereka beringsut pergi. Di tangan mereka ada bermacam oleh-oleh dari Mekkah; korma, air zam-zam, tasbeh, sajadah, mukena, dan kacang Arab. Mereka sebetulnya tahu, kalau pada suatu malam, Akbar dan istrinya bebelanja di Tanah Abang. Mereka juga memaklumi, ketika dimintai untuk membungkusi sajadah, kopiah, tasbeh, dan mukena. Mereka hanya bisa menghitung-hiutng, bahwa naik haji semakin hari semakin mahal saja harganya. Tidak hanya cukup sekadar ongkos pulang-pergi saja, tapi perlu juga menyediakan dana tambahan unutk walimatul hajj, syukuran, dan oleh-oleh. Jika tidak ada oleh-oleh, siap-siap saja dicap sebagai haji yang kikir.
Tiba-tiba mata Akbar memicing, “Sudah pulang semuanya?”
“Sudah,” jawab istrinya, menoleh ke sudut ruangan. Di sana ada dua orang lelaki, duduk gelisah. Tangan mereka tidak henti-hentinya menyeka wajah dengan sapu-tangan.
“Ibu, kipas anginnya arahkan ke mereka, dong!”
Istri Akbar tanpa banyak bicara mengarahkan baling-baling kipas angin ke arah mereka. “Permisi, saya tinggal dulu,” dia bangkit dan masuk ke ruangan dalam.
Akbar masih memandangi punggung istrinya hingga hilang di balik gorden yang memisahkan ruangan tamu dengan ruangan tengah. Dia membeli dua rumah di komplek guru ini, sehingga ruangan tamu lumayan luas menampung orang-orang jika ada acara.
“Bagaimana, lancar semuanya?” Akbar tersenyum lebar kepada mereka. Dia tetap duduk di singgasananya, sehingga posisinya tetap lebih tinggi dari mereka. Bagi dia sangat penting menegaskan, bahwa posisinya sangatlah penting.
Kedua orang itu mengangguk. Salah seorang mengeluarkan amplop tebal dari dalam tas hitam. Amplop tebal itu disodorkan ke Akbar. “Ini bagian Pak Haji,” katanya.
“Pak Kadis titip pesan, Pak Haji secepatnya membuat laporan, bahwa sekolah Bapak sudah direnovasi.”
***

*) Rumah Dunia, Kampung Ciloang, Serang, Oktober 2005
[1] Sape kien = siapa ini
[2] Kule = saya
[3] sing ngebecak kuen? Sing umahe ning kampung Pasir= yang ngebecak itu? Yang rumahnya di kampung Pasir?
[4] Arep jaluk oleh-oleh ape sire = mau minta oleh-oleh apa?
[5] Ape bae = apa aja
[6] Korma bae, gih! Anak sire pire = korma saja, ya. Anak kamu, berapa?
[7] Papat = empat
[8] Weh, akeh amat! Keh, sebungkus bae. Ane lime isine. Sire karo rabi, sepotong-sepotong bae, gih = Waduh, banyak amat! Nih, sebungkus saja. Isinya
lima. Kamu samas istri setengah-setngah saja.
[9] Nuhun saos = terima kasih





Keren, sentilannya mengena sekali.
Sentilan yang dalem sekali, mas Gong 😁👍👍👍banyak terjadi
Wah…makna haji tinggal nama….sedih jadinya..