Cerpen: Pulang dari Haji

“Tidak apa-apa, Pak Haji. Kurma saja sudah alhamdulillah,” sebagai guru bawahan, Wawan tahu diri.

“Istri saya sudah membagi-bagi dengan rata. Satu plastik berisi 5 kurma. Rata-rata di komplek  guru ini, anaknya dua ‘kan. Saya lebihkan satu.”

“Kebetulan anak ketiga kami baru lahir seminggu yang lalu…”

“Wah, alhamdulillah! Pasti akan jadi anak yang soleh, Pak Wawan. Lelaki?”

“Lelaki, Pak haji. Saya dan istri mohon ijin, memberi nama pada anak kami….”
“Namanya siapa?”

“Muhammad Akbar Mabruri….”

Akbar tertawa senang. Perutnya yang buncit terguncang-guncang. “Kamu ini! Bilang-bilang dulu, kek! Tapi, tidak apa-apa. Saya doakan, semoga jadi anak yang soleh, sehat, dan berhasil jadi orang terpandang seperti saya!” katanya mendoakan.

“Amien, Pak Haji….”

“Kalau saja saya dikabari saat di Mekkah, pasti saya doakan di depan Ka’bah!”

“Tidak apa-apa, Pak Haji. Belum jodoh…”

“Ya, sudah. Masih banyak yang antri mau salaman itu!”

“Iya, Pak Haji….”

“Sebentar!” Pak Haji mengeluarkan sebuah amplop dari saku kokonya. “Saudara-saudara!” suaranya keras kepada orang-orang yang sedang berkumpul di ruangan tengah rumahnya. “Jangan pada iri, ya! Walaupun Pak Wawan ini guru paling muda di sekolah saya, tapi karena dia punya momongan lagi, yang ketiga, saya kasih amplop sama dia! Ini buat beli popok si bayi!”

“Wah, pilih kasih, Pak Haji!” protes Arifin.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

3 Komentar

  1. Keren, sentilannya mengena sekali.

  2. Sentilan yang dalem sekali, mas Gong 😁👍👍👍banyak terjadi

  3. Wah…makna haji tinggal nama….sedih jadinya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==