“Bagaimana, Pak, untuk lebaran besok?”
“Iya. Nanti Mas beli.”
“Buat ketupat dan dagingnya?”
Ihsan merogoh sakunya. “Cukupin, ya,” dia menyodorkan 2 lembar 50 ribuan. “Kalau nggak cukup, ngambil dulu di warung Bu Eli.”
Isterinya memegangi uang kertas itu. Dia memandangi suaminya. “Mas, sabar, ya. Ini ujian buat kita. Aku tetap ikhlas dengan keadaan ini. Bagiku, yang penting uang ini halal, Mas.” Kedua matanya digenangi air.
“Iya, percaya sama Mas. Ini uang halal. Kata si Sarmin, walaupun produksi menurun karena Covid, securiti sepreti Mas tetep diprehatikan boss. Besok Mas dapat THR dari pabrik.”
“Alhamdulillah,” isterinya mengusap wajahnya. “Baju Farhan, berarti bisa beli?”
“Nanti Mas beli pas takbiran. Biasanya banyak diskon. Buat kamu juga Mas beliin nanti. Pokoknya kita bisa lebaran.”

Ihsan masih ingat percakapan dengan isterinya. Dia bergerak; dia mengikuti arus manusia. Tidak ada jarak, tidak ada masker, tidak ada cuci tangan yang mestinya disediakan oleh mal. Tapi, dengan arus manusia sebanyak ini, yang di benaknya hanya ada baju baru untuk lebaran, apa yang bisa diperbuat?
Ikhsan berjalan pelan-pelan. Dadanya berkecamuk. Dia kadang tersenggol oleh orang-orang yang berlarian menuju mal; mereka seolah khawatir tidak kebagian. Juga disenggol oleh orang-orang yang hendak pulang dengan tas belanjaan di tangan kanan dan kiri.
Ihsan berbaur dengan masyarakat di malam takbiran. Dia berada di lobi mal, memilih-milih pakaian pakaian anak untuk Farhan. Tulisan diskon bertebaran di seluruh sudut mal. Para penjaga stand berteriak-teriak mempromosikan dagangannya.
“Ayo, beli satu dapat satu!”
“Beli lima dapat gelas!
“Diskon 80 persen!”
“Baju baru buat anak!”
“Diskon gila-gilaan!”
Ihsan memerhatikan orang-orang yang sibuk memasukkan pakaian ke dalam tas, menuju kasir, kemudian dengan wajah gembira keluar lobbi mal. Dia sudah memasukkan 3 celana dan 3 pakaian bergambar tokoh-tokoh robot di bioskop. Baju muslim untuk isterinya dengan jilbab berwarna kehijauan. Untuknya baju koko dan sarung. Cukup. Besok bisa berlebaran.
“Bu Yani, ngeborong nih?” si ibu berjilbab lainnya mendatangi Bu Yani.
“Bu Asih?”
“Iya, aku!” Bu Asih melepaskan maskernya.
“Pangling!” Bu Yani gembira.
“Nggak pakai masker, Bu yani?”
“Ah, jangan percaya, Bu! Covid itu nggak ada!”

Ihsan melihat Bu Asih memakai lagi maskernya dan menunjukkan dua tangannya yang dipenuhi tas belanjaan. Seperti tiang jemuran. Bu Yani tidak mau kalah, memamerkan tas-tas belanjaan yang dipegang kedua anaknya.
“Aku duluan, ya!” Bu Asih berlalu. “Jangan lupa, maskernya!”
Ihsan melihat Bu Yani tetap tidak peduli himbauan temannya. Ihsan membetulkahn lagi maskernya yang melorot. Dia bergerak perlahan mengikuti Bu Yani dan kedua anaknya, yang menginjak usia remaja.
Setelah si ibu membayar dan pergi, Ihsan bergerak cepat berjalan di sebelahnya. Ihsan menyapa si Ibu. Orang-orang bagai air bah menggiring mereka keluar dari lobi mal.
“Bu Yani? Ngeborong, nih!”
“Eh, siapa, ya?”
“Saya Rudi. Teman sekolah di SD! Ibu nggak berubah-ubah. Tetep cantik. Ini anaknya? Dua?”
“Iya. Ini yang lelaki, masih di SMP. Yang perempuan di SD. Ayo, salim dulu.”
Ihsan menyodorkan tangannya. Edua anak Bu Yani mencium tangan Ihsan.
“Suaminya, mana?”
“Lembur!”
“WAH, lembur berarti THR cair!”
“Alhamdulillah, Pak Rudi…”
Ihsan melihat dua petugas keamanan sedang sibuk mencari-cari seseorang.
“Pak Rudi, bawa…,” Bu Yani merasa ragu-ragu.
“Saya jalan kaki, Bu. Nasib saya tidak seberuntung Ibu.”
“Pulangnya ke mana?”
“Kalau Ibu nggak keberatan, boleh saya nebeng? Nanti saya turun di perempatan,” Ihsan tahu semua mobil yang keluar dari mal harus melewati perempatan.
Ihsan bernapas lega ketika mobil keluar dari mal. Dia masih melihat petugas keamanan menyebar
*

Istri Ihsan memotong ketupat. Opor ayam disiramkan ke piring. Menu lebaran yang selalu didambakan umat Islam. Ihsan duduk bersila di selembar tikar. Di depannya ada 5 ketupat di piring, opor ayam di mangkok, dan kerupuk. Mereka saling senyum bahagia melihat Farhan yang masih di TK, bermain mobil-mobilan bersama tetangganya di teras rumah kontrakannya.
“Aku suka bajunya, Mas. Pas dengan jilbabnya. Serasi. Makasih ya, Mas,” isterinya menatapnya.
“Kamu makin cantik.”
“Baju koko Mas juga cocok. Mas makin ganteng.”
“Jam berapa kita ke rumah Emak?”
“Beres halal bi halal di sini.”
Baru saja satu kerat Ihsan suap, Farhan berteriak, “Pak, ada tamu!”
Istrinya bangkit dan bergegas keluar. Ihsan merasa tidak enak. Dari kaca jendela dia bisa melihat dua orang berbadan tegap dan wajah ditutup masker ditemani Pak RT yang juga bermasker. Isterinya berlari ke dalam rumah dan berdiri di depannya.
“Mas…”
Ihsan menunduk.
“Mereka, mereka…”
“Polisi.”
“Iya. Mereka polisi. Katanya, CCTV. Mas malam takbiran tadi…”
Ihsan mengangguk. Wajahnya digelayuti mendung.
“Jadi, Mas?”
“Sudah dua bulan Mas nggak kerja.”
“Dua bulan?”
“Jangan khawatir, uang belanjaan yang Mas kasih halal. Dari uang pesangon.”
“Kenapa Mas nggak bilang?”
“Mas bingung.”
“Coba kalau Mas bilang, uang pesagnonnya bisa buat modal jualan nasi uduk.”
“Iya. Mas nggak ingin nambahin beban kamu. Mas jadiin modal buka cucian motor sama Burhan dan Sodik. Tapi, dibawa kabur si Sodik ke Kalimantan. Mas makin bingung.”
“Mas!” isterinya menjerit.
“Maafkan Mas…”
“Berarti baju saya?”
Ihsan mengangguk.
“Baju koko Mas?”
Ihsan makin menunduk.
“Baju Farhan juga! Oh!”

Pak RT muncul dengan tatapan penuh belas kasihan. “Mereka sudah menunggu, Ihsan. Biarlah, isteri dan anakmu nnati kami yang urus.”
Ihsan bangkit; dia mengambil masker di lemari plastik. Dia memeluk isterinya. Farhan berlari ikut memeluk.
“Farhan…”
“Iya, Ayah…”
“Jaga ibumu, ya.”
“Ayah mau ke mana?”
“Ayah mau pergi bekreja. Kali ini jauh. Naik kapal laut.”
“Pulangnya bawa oleh-oleh, ya, Ayah…”
“Iya, Ayah akan bawa oleh-oleh yang banyak.”
Ihsan mendorong tubuh isterinya yang begitu berat melepasnya pergi. Pak RT berjalan mengiringinya. Dua petugas itu menyambutnya dengan borgol, tapi Pak RT menggerakkan tangannya. Borgol itu dimasukkan kembali ke dalam jaket seorang petugas yang tubuhnya lebih tinggi.
Ihsan pergi dengan wajah menunduk, meninggalkan kampungnya diapit dua petugas keamanan. Isterinya memeluk Farhan.
Orang-orang kampung mulai berkerumun dan berbisik-bisik; mereka ada yang memakai masker, ada yang tidak.
*

GOL A GONG – Menulis 125 buku berupa novel, antologi cerpen, antologi puisi, travel writing, esai, dan parenting. Buku puisi “Air Mata Kopi” (Gramedia, 2014) masuk 10 besar Hari Puisi Indonesia 2014. Mengelola Komunitas Rumah Dunia di Serang Banten. Sejak 30 April 2021 diamanahi meneruskan perjuangan Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025.

REDAKSI CERPEN SABTU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.



