Satu kelas yang jumlahnya mahasiswanya ada 50 orang, buatku sangat tidak produktif. Terlalu riuh dan berdesakan. Tapi aku tetap berusaha menyimak dan sudah kupersiapkan bahan pertanyaan.

“Ron, aktif sekali ente. Selalu rajin bertanya ke dosen. Sudah jangan terlalu serius. Yang lain pada santai aja,” kata teman satu kelasku.
“Bukan apa-apa bro, justru dengan tidak bertanya bawaannya ngantuk. Apalagi dosennya kaku saat memberi pelajaran,” jawabku.
“Juga hukum itu sangat menarik dikaji. Karena ternyata hukum bersifat dinamis. Harus menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Hukum tidak kaku seperti kebanyakan orang kira. Mereka tahu hukum hanya sebatas aturan atau UU. Hukum lebih dari itu. Hukum bicara soal keadilan dan juga kemanusiaan,” jawabku lagi panjang lebar.

Temanku geleng-geleng kepala. “Gila lu Ron, baru masuk kuliah pikiranmu sudah kejauhan. Awas nanti ente stres lagi mikirin hukum,” ujar kawanku itu.
“Tenang bro, selagi kita masih hidup dan masih dapat kiriman uang dari orang tua, hidup dijamin ga akan stress. Hehe,” kataku sambil tertawa lepas.
Nama kawanku itu Dedi, yang kemudian menjadi teman seperjuangan dan paling rajin untuk aksi mahasiswa. Sama-sama satu angkatan di LK FAMU di Lembang yang penuh intimidasi dari pihak berwajib.

Sejak kami aksi bersama di Gedung Sate, kami beberapa mahasiswa baru ikut kegiatan Latihan Kerakyatan atau LK FAMU. Saat pelatihan tersebut, beberapa kali didatangi unsur aparat salah satunya dari Koramil menanyakan kegiatan LK di salah satu pesantren di Lembang dekat tempat ternak sapi perah.
“Maaf, ini adik-adik dari mana? Ada kegiatan apa disini dan siapa yang bertanggung jawab atas kegiatan adik-adik?” tanya salah satu anggota dari Koramil.

“Apakah sudah ada ijin dari aparat di sini? Kegiatannya apa aja?” tanya dari anggota Koramil lainnya.
“Iya, Pak komandan, perlu kami sampaikan di sini, bahwa ini adalah kegiatan mahasiswa dari Unisba. Organisasi kami FAMU kepanjangan dari Forum Aktivis Mahasiswa Unisba. Kegiatan selama 3 hari ini adalah LK atau Latihan Kerakyatan sebagai bagian dari perekrutan anggota baru yang semuanya adalah mahasiswa baru, dan saya penanggung jawab acara ini,” jawab Amran sebagai panitia yang juga mahasiswa senior.
“Kami disini hanya diskusi dan pemberian materi saja dari para alumni, tidak mengajak warga atau orang luar. Dan kami hanya ijin ke lurah setempat,” jawab Rudi menimpali.
Setelah mendapat penjelasan dari panitia, petugas Koramil yang berjumlah 5 orang itu dan berbaju tentara, mengingatkan agar acara ini jangan sampai disusupi kegiatan yang mengarah kepada aliran yang dilarang pemerintah yaitu komunisme, marxisme dan leninisme.

Besoknya dari dari pihak MUI menanyakan hal-hal yang tidak jauh berbeda dari pertanyaan dari Koramil.
Intinya kegiatan Latihan Kerakyatan itu dianggap akan menyebarkan paham yang dilarang dan berbahaya sehingga harus diwaspadai. Mungkin karena penamaan kegiatan yang bertemakan kerakyatan bukan kepemimpinan yang identik dengan haluan kiri.
Bersambung ke bagian 9


