Saya kembali ke lima tahun yang lalu. Pada 2017, tiba-tiba LSSMF menggedor jagat trend festival film pendek di Indonesia. Lubuklinggau bikin festival film pendek? Siapa yang menginisiasi? Tidak ada sekolah film di sana! Tidak ada film maker di sana! Benny Arnas! Wow! Siapa tidak mengenal Benny Arnas! Anak muda kreatif dengan mimpi besar! Saya sangat menghormati orang-orang (apalagi anak muda) yang kreatif, memiliki mimpi besar dan mewujudkannya, tapi tetap memajukan kampung halamannya.

Saya datang ke Lubuklinggau, kota terakhir yang disentuh jalur kereta api. Saya sangat suka berkereta dari Palembang ke Lubukinggau. Saya juga pernah solo traveling Palembang-Lahat-Pagar Alam-Curup-Lubuklinggai-Musirawas-Bayunglencir. Saya pernah menulis cerpen “Rumah Rakit”. Intinya, Sumatera Selatan itu ladang ide kreatif!

Saya menonton film-film yang mereka (para pelajar) produksi. Kami mendiskusikannya. Tentu film-film pendek yang mereka produksi masih kualitas pemula. Tapi ketika 2022 ini, sungguh, saya merasa tercengang. Takjub! Ada lompatan besar dari film-film pendek produksi 2017 dengan yang 2022!

Saya merasakan sekali, film-film pendek 2022 adalah apa yang disebut “society 5.0”. Peserta LSSMF ini bisa dikategorikan sebagai generasi Z dan Alpha (tentu kita sering menasihati 2 generasi ini agar hati-hati dengan masa depannya), yang mampu beradaptasi dengan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi Industri 4.0. Mereka tidak diperbudak tekonologi (digital), tapi justru memanfaatkannya dengan baik. Guru-gurunya – sebagai pembimbing mereka, harus diapresiasi dengan hebat juga oleh instansi terkait, karena mampu menghidupkan iklim kreativitas di sekolahnya. Ki Hajar Dewantoro pasti tersenyum di langit sana!

Terasa sekali di film pendek “Antar’ yang diproduksi oleh para pelajar SMAN Tugumulyo, Musirawas. Mereka out of the box. Sementara film-film pendek lain masih berada di seputaran drama untuk meyampaikan pesannya, film pendek “Antar” melejit sendirian dengan jenis film action. Persoalan-persoalan transformasi tradisi ke modernisasi, mereka visualkan dengan sangat berhasil. Saat ending, saya sebagai juri sampai melompat dari posisi duduk ke posisi jongkok di kursi! Gila!

Membuat karya kreatif, selain dituntut kesabaran, juga harus berani keluar dari “kotak”, menghasilkan sesuatu yang baru, dan tentu “crazy idea”. Film pendek “Antar” memenuhi kriteria itu.
Di film pendek “Rina”, air mata menggenang. Drama yang baik. Penulis skenarionya berbakat, memiliki masa depan yang cerah. Sutradara juga mampu memvisualkan adegan-adegan penting, seperti saat Rina dan temannya yang berseragam putih-merah sambil menjinjing sepatu dari angle memunggungi kamera. Itu semacam simbol pendidikan kita.

Film pendek ‘Rupet Mati” dari segi cerita sangat bagus. Dibungkus mitos sungai (dan hutan) ada “penunggu”-nya, pesannya sebetulnya sederhana: kita harus menurut kepada nasihat orang tua. Dari segi produksi juga luar biasa, karena dikerjakan oleh para pelajar SMPN 1 Muara Rupit.
Saya yakin, di tahun-tahun mendatang, kualitas film pendek di festival film paling hits bagi pelajar di Lubuklinggau, Musirawas, & Muratara, akan semakin hebat. Saran saya, semua pelajar yang terlibat di produksi film pendek yang berkompetisi di LSSMF 2022 ini setelah lulus SMA, kuliah di film! Dan skenario filmnya dicoba dituliskan ke dalam bentuk novel!
*) Gol A Gong adalah Duta Baca Indonesia



