Mungkin jika kita berpijak kepada ajaran kemanusiaan dan agama, yang diajarkan para guru kita, secara tegas dan cepat kita akan memilih yang kedua. Tapi bagaimana jika kita berada dalam suatu kelompok sistem partai politik atau instansi pemerintahan, baik dalam skala kecil hingga besar? Tentu sulit, bukan?
Situasi dan kondisi ini dialami juga oleh Wibisana, salah satu tokoh wayang dalam epos Ramayana. Wibisana adalah adik Rahwana alias Dasamuka, raja di negeri Alengka. Sebelum peperangan yang dahsyat dimulai, Wibisana memberi saran agar Rahwana mengembalikan secepatnya Dewi Sinta kepada suaminya, yaitu Rama alias Ramayana.

Wibisana mengingatkan, bahwa Rama takkan bisa dikalahkan karena ia adalah titisan Dewa Wisnu, dewa yang sangat kuat dan tak terkalahkan, simbol dari kebenaran yang sejati. Di sisi lain, Rahwana tak lebih dari seorang perusak kebahagiaan orang lain, karena ia merebut istri orang, karena ia meletakkan nafsu berahi di atas segala-galanya.
Karena dasar keras kepala dan hanya memikirkan kepuasan, Rahwana menolak. Ia tak sudi mengembalikan Sinta yang sudah didapatkannya, dicurinya, dengan susah payah. Ia keukeuh tak mau mengindahkan saran adiknya yang bijaksana itu. Ia menolak dengan keras. Malah, ia menghujat dan memaki-maki Wibisana. Rahwana bersikeras ingin “mempertahankan” Sinta yang sangat dicintainya.
Melihat tingkah sang kakak yang tak mau mendengar kebaikan, akhirnya Wibisana mangkat dari Alengka, dan bergabung dengan rombogan Rama. Saat itu, Rama yang ditemani adiknya Laksmana didukung penuh oleh jutaan prajurit kera yang dipimpin oleh Sugriwa, dan di sana juga ada Hanuman putra Anjani, seekor kera putih yang kesaktiannya tak perlu diragukan lagi, yang dengan hanya seorang diri mampu mengobrak-abrik Taman Argasoka dan bahkan Alengka.
Mereka siap menyerang Alengka, karena Rahwana bersikeras tak mau mengembalikan Sinta kepada Rama. Padahal, jika saja Rahwana mau mengembalikan Sinta, Rama takkan melakukan penyerangan dan peperangan.

Dengan bergabungnya Wibisana, kelompok Rama serasa mendapat tenaga baru yang sangat besar, bahkan bisa dibilang kunci kemenangan. Wibisana menjadi pengatur strategi dalam peperangan. Ia tahu betul seluk-beluk Alengka beserta kelemahan para perwira Alengka.
Dalam peperangan ini, kelompok Rama memiliki beberapa kelebihan. Pertama, Rama adalah titisan Dewa Wisnu, dewa yang tak hanya sakti mandra guna, tetapi juga dewa yang tak ada bandingannya di kalangan para dewa sendiri. Siapa yang bisa mengalahkan Dewa Wisnu? Tak ada. Dari sini saja, jalannya peperangan sudah bisa ditebak.

Kedua, yang tak kalah penting dari yang pertama, Rama punya Wibisana, sang kunci sukses peperangan, yang mengabdikan diri kepada Rama.
Ketiga, Rama punya adik yang sangat kuat, Laksmana, dan ia juga punya Sugriwa si raja kera, Hanoman putra Anjani yang lincah nan sakti, serta jutaan tentara kera yang hebat dan setia.
Pendek cerita, Rama dan balatentara kera menyerbu Alengka. Tanah Alengka hancur lebur. Meski Alengka punya para perwira yang gagah perkasa dan sakti, namun satu per satu mereka tumbang juga. Itu berkat bantuan Wibisana yang sudah hafal kelemahan-kelemahan para perwira Alengka. Di puncak peperangan, Rahwana meregang nyawa, tumbang oleh panah Guwa Wijaya milik Rama. Dan akhirnya, peperangan selesai. Rama kembali mendapatkan Sinta.



Bagus ceritanya semoga dizaman ini masih ada sosok seperti wibisana yg berpihak kebenaran