Sekeping Koin Dua Sisi
Dalam hal ini, kita bisa melihat sosok Wibisana: ia adalah sekeping koin dengan dua sisi. Satu sisi ia adalah seorang pengkhianat bagi kelompoknya yang ditinggalkannya, bagi kakaknya Rahwana dan bagi negaranya Alengka, kelompok yang salah; tapi di sisi lain ia adalah seorang pahlawan bagi kelompok yang dipilihnya, bagi Rama dan kebenaran, kelompok yang baik.

Jika dilihat dari satu sisi, yakni dari kelompok Rahwana, Wibisana adalah sosok pengkhianat. Ia tidak mau membela kakak (keluarga, kelompok) dan negaranya di saat peperangan besar akan meletus, malah ia balik kanan, bergabung dengan Rama yang akan menyerang negaranya. Adakah julukan baginya yang lebih pas dari pengkhianat?
Namun, jika dilihat dari sisi yang lain, dari kelompok Rama, Wibisana ialah sosok pahlawan, karena menjadi kunci kemenangan bagi Rama dan pasukan kera dengan pengetahuan Wibisana terkait kelemahan para perwira Alengka. Selain itu, Wibisana punya alasan sendiri yang sangat logis: ia sadar bahwa apa yang dilakukan kakaknya ialah salah, benar-benar salah secara etika maupun hukum. Tak bisa diindahan perilaku merebut istri orang lain, terlebih ini adalah istri seorang Dewa Wisnu. Dan karena ambisi buta, demi keserakahan dan kepuasan nafsu, Rahwana mempertaruhkan negara beserta rakyat dan perwiranya untuk berperang.

Bagaimanapun Wibisana memilih membela kelompok yang benar, kelompok Rama, yang merupakan simbol kebenaran, ketegasan, dan kebijaksanaan. Wibisana adalah sosok yang bijaksana dan ia memutuskan meletakkan kakinya pada pijakan kebenaran. Wibisana memilih membela kebenaran.



Bagus ceritanya semoga dizaman ini masih ada sosok seperti wibisana yg berpihak kebenaran