PANGGUNG kayu megah berdiri di halaman kampus Institut Persiapan Dunia Nyata, di kawasan sejuk yang dulu bernama Lembah Beling, yang sekarang dipromosikan dengan nama baru: Lembah Sejahtera.
Langit cerah. Matahari bersinar terang. Barisan kepala daerah berseragam batik resmi mengular seperti peserta reuni akbar. Kamera-kamera wartawan dan influencer berderet bak moncong senjata sniper yang sedang mengincar sasaran.
Di tengah barisan, Minta Bahagia berdiri kaku. Jas birunya masih baru. Peluhnya membasahi kerah jas baru itu. Minta baru tiga bulan menjabat sebagai Bupati Serut Selatan, daerah pesisir miskin yang lebih sering muncul di berita longsor ketimbang laporan APBD.

Presiden telah hadir. Begitu juga dua mantan presiden terdahulu. Mereka berdiri gagah. Ketua DPR terlihat tersenyum lebar. Parade Senja tinggal menunggu aba-aba.
Minta menoleh ke kanan, juga ke kiri. Ia tak mengenal siapa-siapa secara pribadi. Ia menyaksikan semua wajah di barisan itu tampak berseri. Tapi, ia merasa dirinya seperti patung lilin yang dipajang tanpa narasi. Kilatan kamera menghujani wajahnya. Jepret. Jepret. Jepret.
Tak lama, seorang protokoler memberi aba-aba: “Luruskan barisan. Senyum! Ini sejarah.”
Minta menarik napas dan malah mengingat jalan berlumpur di desa Panyingkiran, tempat seorang ibu meninggal karena tak sempat sampai ke puskesmas gara-gara aksesnya tertutup longsor. Ia juga teringat anak-anak sekolah dasar yang belajar dengan lantai bolong-bolong dan atap bocor-bocor.

Kala semua orang bersorak menyambut aktraksi drum band, ia justru merasa terasing. Untuk apa semua ini? Siapa yang sebenarnya kami layani? Begitu batin Minta.
Kelar sesi foto-foto, Minta menepi. Ia memilih duduk di tangga gedung utama. Sendirian. Ia lalu membuka ponselnya, membuka kamera depan. Menatap wajah sendiri. Wajah itu terlihat seperti lebih tua tiga tahun daripada usianya.
“Pak Bupati Minta, boleh bicara sebentar?” Suara berat menyapa dari sampingnya.
Seorang pria tua, berjubah bersih dan membawa tongkat, duduk di sebelahnya. Tak ada ID name tag. Tak satu pun kamera menyorot ke arah mereka.
“Tampaknya ada yang mengganggu pikiran Anda sejak tadi,” kata pria itu.
Minta mengangguk. “Saya merasa…bukan siapa-siapa. Saya berdiri di antara tokoh besar, tapi saya sendiri bahkan belum bisa memperbaiki jalan di desa sendiri.”
Pria itu melempar senyum.
“Justru karena itu Anda mungkin satu-satunya yang sadar bahwa ini semua bisa jadi palsu.”
Minta menatapnya. “Siapa Bapak, sebenarnya?”
Pria itu berdiri dan merapikan jubahnya.
“Saya? Saya bukan siapa-siapa juga. Dulu saya seperti Anda. Tapi, saya
memilih keluar sebelum semuanya membusuk.”
“Keluar?”
Pandangan pria itu menatap lurus ke depan.
“Anda tahu kenapa sebagian orang memilih untuk tak datang ke acara seperti ini? Karena tak semua ingin jadi wajah dalam bingkai, tapi lupa jadi wajah yang dikenang rakyatnya.”.”

Sebelum Minta sempat bertanya lebih jauh, pria itu melangkah menjauh. Lalu, segera menghilang di balik kerumunan.
Tak lama, salah satu ajudan berlari menghampirinya.
“Pak Bupati! Ada yang aneh…”
“Apa?”
“Itu… orang yang tadi Bapak ajak bicara. Kami cek ke panitia, katanya beliau sudah wafat tiga tahun lalu. Namanya Wong Prasojo, mantan kepala daerah yang wafat sebelum pelantikan.”
Minta menatap tempat pria itu berdiri tadi.
oOo


TENTANG PENULIS: Djoko ST, penulis lepas. Karyanya tersebar di sejumlah media, baik cetak maupun daring. Bisa disapa lewat IG @enambelaspas


FIKSI MINI hadir setiap minggu mulai Juni 2025. Terbit hari Senin. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis. Jika ingin melihat fiksi mini yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:



