Geliat Perpustakaan Jalanan di Kota Serang: Memudahkan Masyarakat Mengakses Buku

Sebut saja Edi, salah satu relawan perpustakaan jalanan. Hal yang melatarbelakangi Edi mendirikan komunitas perpustakaan jalanan bersama teman-temannya ini sebetulnya cukup unik dan sederhana, bukan berangkat dari keresahan atau kegelisahan melihat minat baca masyarakat yang rendah atau alasan bijak lainnya, tapi berangkat dari kegabutan saja. Unik bukan? 

Perpustakaan jalanan ini mulai aktif dari tahun 2017 sampai sekarang, buku-bukunya berasal dari para relawan yang komitmen untuk aktif di komunitas. Menurut keterangan Edi, buku-buku yang mereka sediakan kebanyakan buku-buku fiksi dan komik, buku-buku yang berbau ilmu pengetahuan atau non fiksi jumlahnya bisa dihitung jari.

Komunitas Perpustakaan Jalanan ini semula nongkrong atau lapakan di kampus, tepatnya di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA). Seiring berjalannya waktu, perpustakaan jalanan ini mulai lapakan di Alun-alun Kota Serang setiap hari Rabu dan Minggu. 

Ada yang menarik dari cerita Edi, semula dia mengungkapkan bahwa sebetulnya minat baca masyarakat kita tidak serendah yang dikatakan oleh para peneliti dan lain sebagainya. Menurutnya, bukan minat bacanya yang rendah, tapi akses terhadap buku atau perpustakaan yang tidak bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Ungkapan seperti ini selaras dengan apa yang sering disampaikan oleh Gol A Gong, Duta Baca Indonesia di berbagai kesempatan.

Edi juga berpendapat bahwa seharusnya sekolah-sekolah memfasilitasi serta menyediakan banyak buku bacaan untuk siswa-siswinya. Edi mengaku selama ini dirinya melihat perpustakaan di sekolah itu isinya kebanyakan buku-buku mata pelajaran yang sangat monoton dan membosankan. Padahal, sekolah seharusnya menjadi gerbang utama untuk meningkatkan minat baca masyarakat kita. Namun sepertinya belum semua sekolah melakukan apa yang diharapkan oleh Edi. 

Saat Edi dan kawan-kawan lapakan buku di Alun-alun barat kota Serang, ada seorang pemulung dan pengemis yang sering datang ke lapakan buku untuk membaca buku, bahkan meminjam dan membawanya pulang agar bisa lanjut membaca di rumah, mereka juga rela mengeluarkan uang untuk membeli buku. 

“Saya pas lagi lapakan buku, seorang pemulung dan pengemis sering datang untuk baca, bahkan mereka sudah baca beberapa buku. Mereka meminjam buku dan membawanya pulang, bahkan rela mengeluarkan uang buat beli buku,” ungkap Edi. 

Edi juga mengungkapkan bahwa, jika kita bicara perihal ketersediaannya Perpustakaan Daerah dan Perpustakaan Kota tidak semua orang mau datang ke sana. Banyak faktor yang melatarbelakanginya, bisa karena malu, gengsi, merasa rendah diri dan lainnya.

Pemerintah memang sudah cukup baik menyediakan perpustakaan daerah dan kota, tapi ternyata tidak bisa dijamah oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya bagi mereka yang merasa status sosialnya rendah, tidak bersekolah dan lain sebagainya. 

Saat saya bertanya terkait dampak baik apa yang diberikan oleh perpustakaan jalanan ini, Edi hanya menjawab bahwa dirinya bersama teman-teman yang lain tidak pernah berekspektasi apapun, walau ternyata respon masyarakat terhadap lapakan buku yang mereka lakukan sangatlah baik. Bahkan Ketika perpustakaan jalanan ini absen lapakan, banyak orang yang mencari dan menanyakan atas ketidakhadiran mereka di hari Rabu dan Minggu yang menjadi jadwal rutinan mereka lapakan buku. 

Edi dan kawan-kawan tidak menyadari bahwa sebetulnya apa yang mereka lakukan di komunitas perpustakaan jalanan ini memberikan dampak baik dan akses kepada masyarakat yang merasa status sosial dan ekonomi rendah untuk mendapatkan buku bacaan dan bisa lebih dekat dengan ilmu pengetahuan.

Ketidakmampuan para pemulung dan pengemis untuk bisa sekolah formal, tentu saja membuat mereka sulit mendapatkan ilmu pengetahuan yang sangat luas. Bagi orang-orang seperti mereka, sekolah adalah hal sangat mewah, membeli buku adalah sesuatu hal yang mahal, karena untuk bisa bertahan hidup saja mereka harus bekerja banting tulang siang dan malam. 

Edi berharap dirinya bersama kawan-kawan yang lain bisa konsisten mengaktifkan komunitas perpustakaan jalanan ini, ia sangat menyayangkan jika komunitas ini sampai tidak aktif lagi atau hilang. Karena menurut Edi masyarakat masih sangat membutuhkan komunitas-komunitas atau platform-platform yang memudahkan masyarakat mengakses buku bacaan. 

Tulisan ini adalah hasil dari Workshop Menulis Esai untuk Pegiat Literasi yang diselenggarakan Rumah Dunia bekerjasama dengan Badan Bahasa Kemendikbudristek pada Minggu, 6 Oktober 2024.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==