Namun sangat disayangkan, angkringan mahasiswa tadi sedang tutup. Maklum sebagian orang bersiap-siap menyambut Hari Raya Idul Adha. Beruntung, Baehaqi salah satu relawan senior Rumah Dunia mengajak ke tempat angkringan yang nyaman.

Gol A Gong menyetujui saran dari Baehaqi. Saya, Jodi, Mas Gong dan Baehaqi bersiap-siap berangkat ke lokasi angkringan, tepatnya di Jl. KH. Abdul Latif, Cimuncang, Kec. Serang, Kota Serang. Persis di areal Pasar Rawu.

Jodi menyalakan mobil, kami sebut ia si Biru. Mesin meraung-raung, dan tak menunggu waktu lama kami berangkat. Di perjalanan, Gol A Gong selalu berbicara tentang dunia kreatifitas—idenya begitu banyak dan kami hanya bisa menyimaknya dengan seksama.

Tidak lama, mobil sudah berada di pusat pasar Rau. Pasar ini baik pagi maupun malam selalu ramai—hingga menyebabkan kemacetan—tentu saja, si Biru sedikit tersendat jalannya karena kemacetan tadi.

Kami sampai juga di lokasi angkringan Jl. KH Abdul Latif tersebut, masih areal pertokoan Pasar Rawu. Gol A Gong turun lebih dulu, ia menggerak-gerakkan tangannya melakukan peregangan. “Astaga! Apakah ini adalah bagian dari ritual sebelum makan,” gumam saya.

Saya, Jodi, dan Baehaqi turun bersamaan. Tidak menunggu waktu lama, kami langsung memesan beberapa makanan di angkringan tersebut: mulai dari sate urus ayam, bakso tusuk sampai nasi bakar semuanya ada di sini.

Semuanya hampir rata memesan susu jahe merah. Gol A Gong berkomentar bahwa tempat angkringan ini sangatlah nyaman dan bersih, makanannya pun enak-enak.

“Saya melihat ekonomi akan hidup di kota Serang seandainya ini dijadikan pusat tongkrongan semacam angkringan begini,” kata Gol A Gong. “Pusat kuliner. ada angkringan, nasi goreng, nasi sum sum khas Banten. Semuanya lesehan. Ngegelar tiker.”

Saya hanya bisa menyimak celetukan ide literasi finansial tersebut. Tapi ini adalah permulaan obrolan yang bergizi karena penuh dengan semangat kemajuan untuk Banten khususnya. Semoga Pemerintah Kota Serang membaca tulisan saya ini.

“Di Jogja itu angkringan berderet di Malioboro, berbaur dengan nasi gudeg. Ekonomi akan terus mengalir di situ—kalian tahu Umbu Landu Paranggi? Itu yang mempopulerkan Malioboro bersama Emha Ainun Najib. Angkringan yang tadinya imej kelas jelata oleh mereka martabatnya dinaikkan,,” ujar Gol A Gong.

Setelah makanan kami hampir habis, Naufal dan Andin – mereka relawan Rumah Dunia juga, datang terlambat. Keduanya ikut makan, menikmati hidangan angkringan tersebut.

Saya melihat gerak mata Gol A Gong sedang membaca masa depan literasi finansial di daerah tersebut. Saat kami semua selesai makan, Gol A Gong menyuruh saya mengamati daerah sekitar.

“Rohman coba lihat sini, apakah banyak pedagang di sini seperti angkringan ini?” Tanya Gol A Gong.

Saya melihat tidak banyak orang yang berjualan di daerah ini. Dan Gol A Gong punya ide agar Jl. KH. Abdul Latief dijadikan pusat ekonomi yang identik dengan tongkrongan anak muda.

“Saya sangat yakin kalau ini dijadikan pusat tongkrongan, pusat kuliner dan penuh dengan makanan semacam angkringan begini, Serang bisa maju secara finansial,” kata Gol A Gong, yang mengusulkan Jl. KH. Abdul Latif Pasar Rawu Jadi Pusat Kuliner Lesehan.

Begitulah perjalanan malam tepatnya pada pada Jumat 8 Juli 2022 bersama para relawan Rumah Dunia. Di setiap langkah, Gol A Gong selalu saja membagikan ide-idenya.*
Rohman



