Hj Inayah: Penjual Nasi Kebuli Satu-satunya di Kampung Inggris Pare Kediri

Karena kenikmatannya tersebar dari mulut ke mulut, saya akhirnya tertarik menyambangi warung nasi kebuli Hj. Inayah pada Sabtu, 24 September 2022. Beruntung, saat saya ke tempatnya—hanya ada yang makan satu orang. Saya menduga dari luar kota, sebab pakaiannya sangat rapi sekali—ditambah membawa mobil.

Saya memesan satu porsi nasi kebuli dan lauknya adalah cincangan daging sapi. Saya melihat daftar menu, satu porsi dengan daging sapi hanya 14 ribu, untuk ayam 13 ribu dan untuk telur hanya dibanderol 11 ribu. Lumayan murah.

Saya duduk lesehan di permadani merah. Pelayannya menanyakan. “Mau minum apa?” Aku jawab air putih hangat saja. Maklumlah, tidak ada uang lebih kala itu untuk memesan minuman yang berasa dan menyegarkan.

Nasi kebuli, daging sapi, dan tiga helai kerupuk sudah disajikan. Tapi ada sedikit janggal, mengapa nasi kebulinya nampak seperti biasa—dan itu nanti yang akan saya tanyakan kepada Hj. Inayah.

Suapan pertama hanya nasi yang saya makan. Rasanya enak. Penuh dengan rempah. Aroma rempah menyeruak masuk dalam hidung saya. Saya menikmati dengan baik hidangan khas Timur Tengah ini. Dan pada akhirnya, saya mengaduknya menjadi satu.

Daging sapinya diolah dengan sangat baik. Rasanya seperti semur, tetapi ini sangat kaya rempah. Setiap suapan selalu menagih. Sampai tulisan ini ditulis, rasanya selalu terngiang-ngiang di kepala dan ingin kembali mencicipi yang menu yang lainnya —yaitu nasi kebuli plus ayam.

Selesai makan, saya meminta Hj. Inayah untuk diwawancarai. Beruntung, dia bersedia walaupun canggung. Itu terlihat di jawabannya dan raut wajahnya yang tidak biasa ditanya-tanya.

“Sejak kapan Ibu buka warung makan nasi kebuli ini?” Tanya saya sebagai pembuka.

“Kalau di Pare, baru, Mas. 10 bulan,” katanya.

“Kenapa buka warung nasi kebuli? Dan ini beda daripada yang lain?” Kata saya.

“Di sini’kan geprek sudah ada dan kebetulan saya juga pernah kerja di Timur Tengah, jadi saya kepikiran untuk buka warung nasi kebuli aja deh,” katanya.

Hj. Inayah mengaku kepada saya bahwa dia di Timur Tengah bukan sebagai pembantu rumah tangga, tetapi sebagai pegawai salon. Tetapi, dia banyak belajar tentang makanan khas Timur Tengah tersebut.

Usaha salonnya bangkrut karena ditimpa Covid-19. Tidak ada yang datang sama sekali ke tempat salonnya. Akhirnya, dia pulang ke Indonesia membawa sebuah resep masakan Timur Tengah yang dikenalkan di Kampung Inggris, Pare.

“Awal saya berjualan di Facebook online. Ternyata banyak sekali yang memesan dan mereka bertanya di mana tempatnya? Saya berpikir apa harus buka warung. Akhirnya saya buka di Kampung Inggris,” katanya.

Saya tertarik bertanya mengapa nasi kebuli yang dijualnya murah, padahal ini dihidangkan dengan daging sapi. “Karena di sini juga murah-murah jadi saya bingung kalau jual mahal, saya sesuaikan dengan kantong pelajar aja. Kalau di Jakarta mungkin 27-35 ribu,” katanya.

“Mbak ambil beras basmatinya dari mana?” tanya saya.

“Dari online. Itu juga dimix dengan nasi biasa,” katanya. Akhirnya saya tahu kenapa tadi saya ragu. Ternyata nasi kebuli yang disajikan sudah dicampur dengan nasi biasa.

Hj. Inayah mengaku kepada saya bahwa dirinya akan membuka cabang di Jalan Brawijaya (Kampung Inggris, Pare). Dia juga menjelaskan bisnis makanannya ini sangat menguntungkan.

Setiap hari warung makan nasi kebuli Hj. Inayah ini bisa menghabiskan 11 kilo beras dan untuk daging ayam bisa sampai 10 kilo plus daging sapi 2 kilo. Perlu diketahui, bahwa warung makan nasi kebuli Hj. Inayah buka setiap hari mulai pukul 11.30 sampai 21.00 dan terkadang suka habis sebelum waktunya.*

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==