Pertanyaannya: tidak ada anggaran atau tidak tersdia SDM penuils? Saya sebagai Duta Baca Indonesia menemukan jawaban: Indonesia kekurangan penulis!

Para pegiat literasi yang berkampanye tentang pentingnnya membaca buku tapi belum memberikan contoh dengan praktik baik literasinya, yaitu menuliskan lagi apa-apa yang sudah dibacanya dalam bentuk buku.

Bayangkan jika belasan ribu pengelola taman bacaan atau komunitas baca yang tersebar di Indonesa itu menulis buku setiap tahunnya 1 buku, target dari Perpusnas RI yang ingin meningkatkan rasio ideal jadi 1:30 (1 buku dibaca 30 orang) akan terwujud.

Yuk, menulis! Jangan cuma nyuruh orang: baca, baca, baca! Ingat, khotbah terbaik adalah dengan perilaku!
Gol A Gong



