Jangan Percaya Kalau Budaya Baca Kita Rendah

Saya sudah ke pelosok-pelosok di Indonesia. Anak-anak haus membaca. Saya menyaksikan sendiri anak-anak haus bacaan. Perpustakaan sekolah yang koleksi bukunya tidak variatif, taman bacaan masyarakat jadi alternatif. Jika ada mobil perpustakaan keliling, mereka menyerbu tapi kemudian bilang, “Sudah dibaca. Mana yang baru?”

Tias Tatanka dan relawan Rumah Dunia, Serang-Banten, seperti Dio dan Ai setiap bada ashar menggelar buku dan berinteraksi dengan anak-anak. Di sela-sela membaca, anak-anak distimulus dengan kegiatan lainnya sepert menulis cerita, menggam,bar, dan bernyanyi.

Itulah kenapa negara lewat Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam 5 tahun ke depan akan mencetak 45 juta buku anak-anak. Tahun 2024 sudah memulai dengan mencetak 10 juta buku anak-anak dan dibagikan ke 1000 perpustakaan desa dan taman bacaan masyarakat. Masing-masing titik mendapat 1000 buku.

Menurut hasil penelitian yang bisa kita akses di mana-mana, tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat Indonesia pada tahun 2023 sebesar 66,77 poin. Tahun sebelumnya 63,9 poin. Sebagai informasi, indikator perilaku membaca yang dipertimbangkan dalam penilaian tingkat kegemaran membaca (TGM) adalah sebagai berikut:

Gerakan Literasi Sekolah. Anak-anak membaca buku selama 15 menit sebelum masuk kelas dan belajar. Program saya dengan “Duta Baca Masuk Sekolah” mewarnai.
  1. Frekuensi membaca. Nah, kita Gen Baby Boomers hingga Gen Milenial, jangan terlalu menyalahkan Gen Z atau Gen Alpha yang ketergantungannya pada gadget sangat tinggi. Mereka digital native. Jadi, kita yang harus menyesuaikan diri kepada mereka. Dulu di zaman masih belum ada internet, kita juga sering mengisi akhir pekan ke mall untuk main video game – tetris, pinbal, packman. Gen Z dan Gen Alpha tentu lebih canggih.
  2. Durasi membaca. Kita harus mengakui kalau Gen Z dan Alpha durasi membacanya tidak bisa yang panjang-panjang. Tidak apa-apa. Itu sudah bisa jadi modal. Itu tantangan bagi para penulis, agar menulis buku yang efektif. Setiap bulan saya dan SIP Publishing mengadakan pelatihan menulis fiksi mini (cerpen pendek) antara 300-500 kata secara zoom. Itu adalah strategi saya, agar literasi baca-tulis terawat dengan baik di generasi mereka.
  3. Banyaknya buku yang dibaca. Nah, jangan hanya terpaku pada buku konvensional (cetak), tapi juga buku digital. Jangan juga selalu menghakimi orang yang sedang serius melihat ke layar handphone itu dikiranya sedang asik berselancar di dunia maya. Siapa tahu mereka sedang membaca e-book. Kepada keempat anak kami, tidak ada paksaan untuk membaca buku cetak. Belasan ribu buku berjejer di rumah menjadi properti penting. Anak kesatu dan kedua masih membaca buku cetak dan koran. Anak ketiga dan keempat awalnya langsung ke digital, tapi sekarang mulai rajin membaca buku cetak.
  4. Frekuensi mengakses internet. Tiada hari tanpa internet. Dunia semakin kecil. Kita memahami, bahwa karakter Gen Z yang terbuka dan kolaboratif pada banyak hal, kritios, dan selalu penadsaran seperti pada isu sosial dan lingkungan, multikulturalisme, dan kemajuan teknologi. Sedangkan Gen Alpha adalah generasi paling paham teknologi dan berdaya secara digital sepanjang sejarah.
  5. Durasi mengakses internet. Waktu keseharian Gen Z dan Gen Alpha dihabiskan secara daring dan di depan layar. Saya dan istri kadang keteteran menghadapi kedua anak kami yang Gen Z. Mereka hidup tidak bisa lepas dari gadget. Laptop (MacBook), drone (mobile camera), handphone (IPhone). Saat saya bekerja di Gramedia dan RCTI, MacBook masih Macintosh dengan ukuran sebesar koper dan hanya ada di ruang produksi. Drone? Jika hendak menambil gambar dari atas di ruang terbuka menggunakan helikopter (mainan) kecil. IPhone atau smartphone? Saya masih menggunakan pager merek Easy Call.
Membaca Nyaring harus dibudayakan di rumah. Setelah tangan kiri saya diamputasi saat kelas 4 SD (1974), saya diwajibkan mendengarkan Emak bercerita sebelum tidur.

Dari 5 indikator itu, rata-rata waktu membaca orang Indonesia adalah 1 jam 37,8 menit per hari, atau 9 jam 56 menit per minggu. Dari 24 jam jika kita urai adalah: 8 jam tidur, 8 jam bekerja, 1 jam 30 menit membaca, sisanya 7 jam dipakai untuk sosialisasi seperti kumpul dengan teman, nonton, ke pasar, dan berkunjung ke rumah saudara.

Lumayan. Alhamdulillah. Jangan terlalu memaksakan agar kita seperti negara-negara maju seperti Amerika atau Finlandia. Sabar. Pelan-pelan. Pemerintah lewat Perpusnas RI dan Kemdikbud RI sedang berupaya keras untuk melejit menuju Indonesia Emas 2045. Apalagi Presiden terpilih 2024-2029, Prabowo Subianto, gemar membaca dan memiliki perpustakaan yang mewah.

Jika kamu punya banyak buku di rumah dan terbengkalai di rak, bukalah untuk lingkungan. Itu akan membuat lingkungan literasi masyarakat jadi sehat.

Untuk penyemangat, sekadar informasi, berikut ini adalah beberapa provinsi dengan budaya baca-tulisnya tertinggi di Indonesia:

Yogyakarta: 73,27
Jawa Tengah: 71,31
Jawa Barat: 70,47
Jakarta: 69,94
Jawa Timur: 69,78
Kalimantan Utara: 69,31
Kalimantan Timur: 68,46
Sumatera Barat: 68,46
Sulawesi Selatan: 68,20
Jambi: 68,10

Kota dan provinsimu masuk daftar? Banten di mana saya tinggal saja tidak masuk. Padahal saya sebagai Duta Baca Indonesia. Paradoks, ya. Tapi wajar ya kalau Yogyakarta tetap bertahan di urutan pertama. Di Indonesia ada sekitar 3000-an perguruan tinggi, sekitar 50-an di Yogyakarta. Komunitas baca juga tumbuh. Penerbit buku apalagi. Orang-orang dari seluruh Indonesia berdatangan ke Yogya, bermukim, dan berproses di dunia literasi baca dan tulis.

Jadi saran saya, bangun saja literasi keluarga yang sehat di rumah. Jangan menyudutkan anak-anak Gen Z dan Gen Alpha. Tapi sebagai orang tua mulai rajin mencontohkan dengan membeli dan membaca buku minimal 1 saja setiap bulannya. Sediakan satu rak di sudut ruangan. Ingat ceramah terbaikmu adalah perilakumu. Maka mulailah membaca buku (cetak dan digital) secara atraktif di depan anak-anak.

Menulis untuk Perubahan
Gol A Gong
Duta Baca Indonesia 2021-2025
Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat

Melihat foto ini saja, apakah kita masih ragu kalau budaya baca kita rendah?


golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==