Saya dan Umam ternyata satu almamater di UIN Banten. Umam adik tingkat saya. Selama di kampus, saya tak terlalu mengenal Umam. Kami malah dipertemukan di luar dan makin akrab.

Suatu hari, kami tak sengaja bertemu di luar, Umam menyapa saya. “Ini kang Wayang, kan? Yang dulu di SiGMA dan aktif di Rumah Dunia?” Katanya waktu itu. Saya mencoba menebak-nebak siapa lawan bicara saya. Setelah itu obrolan pun mulai lancar. Dia lalu bercerita punya usaha bisnis penjualan baju serba Rp.35.000,-. Saya pun jadi tertarik untuk mewawancarainya.

Alumni UIN Banten jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) 2014-2018 ini bercerita awal memulai bisnisnya. Sejak masih SMA, Umam memang termasuk anak yang rajin membantu usaha bisnis gorden ayahnya di Kampung Pesantren, Desa Binuang, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang-Banten. Hingga kuliah, Umam selalu senang dengan dunia bisnis.
Pada tahun 2017, Umam mengaku mulai dididik untuk mandiri, untuk mengembangkan usaha sang ayah. Umum diberikan ruko persis di samping MAN Kragilan untuk membuka cabang bisnis gorden ayahnya.

Dari bisnis gorden, kemudian Umam beralih ke bisnis baju. Itu terjadi lantaran ada orang Padang yang ngontrak di sebelah ruko Umam. Orang Padang ini jual baju serba 35 ribu. Waktu itu, awal 2017 bisnis serba 35 ribu luar biasa. Sedang laris-larisnya.
“Siapa yang enggak tertarik, harga baju murah, dengan kualitas yang lumayanlah. Ternyata itu banyak peminatnya. Waktu itu ada mobil pick-up punya ayah yang kadang disewa. Saya sering diajak-ajak sama tetangga untuk belanja baju. Karena memang setiap belanja perlu mobil yang luas. Orang Padang ini cuma punya mobil pribadi. Jadi ga bisa muat barang banyak. Akhirnya saya sering diajak jadi supirnya di Muara Angke, Pasar Buah. Di sana tempat turunnya baju-baju impor. Diajk juga di Tanah Abang dan Cipulir belanja daster,” kata Umam, Senin, (25/7/2022).


