Keputusan penting pertama dalam hidupku adalah meninggalkan bangku kuliah di Fakultas Sastra UNPAD Bandung, 1985. Kuliahku berantakan. Secara akademis, percuma juga dilanjutkan.
Aku pamit kepada kawan-kawan, mengambil jalan berbeda. Bapak-Emak tentu kecewa. Tapi aku paparkan rencana hidupku. Aku katakan, sekolah yang cocok buatku adalah di jalanan. Aku berjanji tidak akan mengecewakan mereka.

Awalnya Bapak-Emak kuatir dengan masa depanku. Aku memaklumi. Sebagai orang cacat (lengan kiri diamputasi), tentu sudah jadi hal biasa saat itu (era sebelum reformasi), bahwa pasti berujung di dinas sosial.
“Tangan di atas lebih mulia. Emak tidak mau kamu jadi orang yang tangannya di bawah.”
Aku yakinkan Bapak-Emak, bahwa pendidikan bisa didapat dengan cara informal juga. Aku tunjukkan koleksi buku-bukuku yang ada di dus. Akhirnya Bapak memberikan paviliun rumah untuk jadi perpustakaan pribadiku.
Jika aku mengingat masa bergolak itu, ya Allah, patut aku syukuri. Allah SWT memudahkan dan melancarkan segala rencanaku. Aku percaya, jika kita merencanakannya dengan baik dan mewujudkannya dengan ikhtiar dan doa, maka Allah SWT akan selalu berada di sekitar kita.

Saat itu aku sedang mencari jawaban tentang pencarian jati diri dari tokoh fiktif yang kemudian kita kenal “Roy” di Balada Si Roy. Dalam imajinasiku berkelebatan Tom Sawyer, tokoh kita di Iwan Simatupang, Musashi, Jim Bowie, Papillon, Phileas Fogg, Sisyphus, Minke, Galih dan Ratna, Ali Topan, dan masih banyak lagi… Kepalaku meledak.
Tentu tidak harus ditiru langkah “absurd” ini. Intinya, membaca buku itu sangat penting. Itu sebab “membaca itu sehat, menulis itu hebat” lahir dari pergolakan ini.

Komitmen, konsisten, dan kontinyu mewujudkan segala gagasanmu, yang tujuannya adalah “bermanfaat bagi lingkungan” insya Allah, hidupmu akan bahagia.
Nantikan cerita keputusan penting kedua dalam hidupku, ya ..
Gol A Gong
Avonturir



