Hamdani berdiri di depan cermin kecil di kamar kosannya. Seragam SMA-nya rapi, rambut disisir ke samping, dan di tangannya… iPhone yang baru dua hari lalu dikirim ayah dari kampung. Masih dibungkus plastik bening, diselipkan dalam dus bekas sepatu. Kiriman itu datang dengan pesan pendek dari ibunya:
“Itu uang hasil jualan sayur sama ayahmu yang nyangkul dari subuh sampai magrib. Pakai baik-baik, ya, Nak.”
Tapi Hamdani tak membalas. Ia terlalu sibuk membayangkan wajah-wajah takjub teman-temannya saat melihatnya nongkrong dengan ponsel “kasta atas”.
Di sekolah, Hamdani dikenal sebagai murid pintar. Tapi dalam pergaulan, dia selalu jadi bayangan. Teman-teman sekelasnya anak pengusaha, pejabat, atau pemilik kafe. Mereka sering cerita soal liburan ke luar negeri, langganan Netflix, dan makan siang di restoran dengan menu berbahasa asing.
Dan Hamdani, si anak petani dari kecamatan kecil, mulai merasa malu dengan asal-usulnya. Ia mulai meniru gaya bicara mereka, ikut nongkrong meski harus hemat makan dua hari, dan mulai memanggil ayah ibunya dengan sebutan “orang rumah” — bukan “Bapak” dan “Emak” seperti dulu.
Semua demi diterima.
Pada suatu siang, di kantin sekolah, seorang temannya berseloroh, “Dan, kamu kok bisa punya iPhone juga sekarang? Wah, upgrade nih!”
Hamdani tersenyum—palsu, “Iya dong, Bapakku sekarang bisnis kebun organik skala besar…”

Padahal kenyataannya, ayahnya masih jongkok di sawah berlumpur, dan ibunya masih mendorong gerobak sayur keliling pasar sambil sesekali mengusap peluh dengan kerudungnya yang pudar.
Malam itu, di kamar kos yang sunyi, Hamdani membuka chat dari ayahnya. Ada foto: tangan kapalan, kotor lumpur, sedang memegang segenggam padi.
Tiba-tiba, iPhone di tangannya terasa berat. Berat oleh beban yang tak tampak.
Dan untuk pertama kalinya, Hamdani menangis. Bukan karena malu, tapi karena sadar: dia sedang memanjat ke tempat yang tinggi dengan menyangkal tanah tempat dia tumbuh.
Tim Gol A Gong/ChatGPT

REDAKSI: Di meja makan bukan sekadar tempat orang atau sebuah keluarga makan. Di sana akan banyak ditemukan cerita-cerita sebuah keluarga tentah ayah, ibu, dan anak-anak. Juga cerita-cerita penuh makna agar kita tidak selalu memikirkan perut. Tapi di meja makan kita bisa juga mendengarkan mutiara-mutiara kehidupan agar kita bisa selamat menjalani kehidupan ini.


