Saya belum mengenal JD Salinger apalagi membaca novelnya saat itu. Saya juga tidak paham kenapa Chapman menembak Lennon dengan peluru! Saya tahu alasannya setelah Chapman diwawancarai media massa. Menurut Chapman yang terpengaruh dari tokoh “Holden Caulfield” di novel CiTR, “John Lennon membawa pengaruh buruk kepada anak muda Amerika!”

Menonton film (biografi JD Salinger) itu saya betul-betul seperti mabuk pada dialog-dialog yang dibangun JD Salinger. Dialognya sangat kuat. Terutama ketika JD Salinger (diperankan oleh Nicholas Hoult) dengan sang dosen kelas menulis kreatif (diperankan Kevin Spacey) tentang tujuan menulis.
“Mengapa kau menulis?” tanya sang dosen.
“Untuk menerbitkan ceritaku.”
“Bukan, kenapa kau mau menulis?”
“Karena aku merasa marah pada banyak hal. Saat aku menulis, aku merasa bisa melakukan sesuatu untuk itu. Aku ingin menyampaikan apa yang kupikirkan tentang itu.”
“Apa yang mesti kau lakukan sebenarnya adalah, jelajahi apa yang membuatmu marah lalu kemudian tuangkan itu semua ke dalam ceritamu.”
“Apa kau bersedia mengabaikan hidupmu untuk menceritakan kisahmu meskipun kau tidak akan mendapatkan apa-apa? Jika kau tak mau, keluar dari sini dan temukan hal lain untuk dilakukan, karena kau bukanlah penulis sejati.”

Dialog JD Salinger dan sang dosen mengingatkanku saat saya muda 1980 – 1987. Beragam peristiwa terjadi di Indonesia. Pemerintah kita yang menyuburkan praktik KKN dan pelanggaran HAM, represif terhadap kelompok kritis, pembredelan pers, peristiwa Tanjung Priuk, penembak misterius. Akhirnya saya melarikan diri ke “dunia traveling”. Mentor saya adalah para penulis terdahulu dengan membacai karya-karya mereka. Kata William Somerset Maugham – penulis sandiwara, roman, dan cerita pendek yang berasal dari Inggris, “Pergilah dari rumah lalu tuliskanlah pengalaman yang kamu dapat…”
Saat traveling saya mengabaikan hidup saya. Kuliah di FASA UNPAD saya tinggalkan. Zona nyaman selalu saya hindari. Saya memilih hidup menghadapi risiko-risiko. Itu kenikmatan seperti Anda merokok dan ngopi. Saat itu yang ada di benak saya adalah menciptakan satu tokoh fiksi saya, sebagai artikulator atau penyampai rasa marah saya kepada dunia. Jika JD Salinger menemukan tokoh “Holden Caulfield” di “Catch in The Rye” saat ikut perang melawan Nazi, saya menemukan tokoh “Roy” di novel “Balada Si Roy” saat traveling 1981 – 1987..

Dari testimoni para pembaca, ternyata banyak juga yang terpengaruh oleh tokoh “Roy”. Bahkan ketika novel itu masih dimuat serial di majalah HAI (1988-1994) banyak surat dari para orang tua yang protes kepada saya, agar menghentikan penulisan “Balada Si Roy”, karena anak-anak mereka lebih suka traveling seperti tokoh “Roy” ketimbang sekolah.

Saya pernah melakukan proses menjadi perempuan di tokoh “Anah Nurhasanah” pada novel trilogi “Pada-Mu Aku Bersimpuh” (diproduksi jadi sinetron puasa oleh Indika Ent. dan tayang di RCTI dan TV3 Malaysia, 2002), jadi anak muda frustasi di novel “Labirin Lazuardi”, dan jadi anak-anak di beberapa novel anak.
Mari, membaca, menulis, dan menonton.
Gol A Gong

REDAKSI LAYAR BIOSKOP: Resensi film di Layar Bioskop, harus orisinal. Penonton harus terhubung langsung dengan filmnya. Hindari definisi-definisi, upayakan ada detail suasana bioskop dan penonton. Teknik menulis travel writing sangat ditunggu. Lengkapi dengan foto selfie dengan poster film, suasana lobby bioskop, dan tiket bioskopnya. Panjang 500 hingga 700 karakter. Honor Rp. 100 ribu. Terbit tiap Jum’at , 2 mingguan, bergiliran dengan resensi buku di Rak Buku. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dengan subjek Layar Bioskop.


