Jadi, kita tidak bisa memaksa anak-cucu kita harus seperti kita. Zamannya sudah berbeda. Zaman saya dengan keempat anak saya berbeda. Saya mengalami 3 zaman; mesin uap, komputer, dan kini digital. Saya menyesuiakan diri dengan zaman mereka. Hasilnya tidak mengecewakan. Anak pertama beasiswa di China, yang kedua sejak 2012 (kelas 5 SD) beasiswa di Abu Dhabi (sekarang lolos S2), yang ketiga kuliah flm di Yogya, dan si bungsu Sastra Korea di UPI Bandung.

Saya sering menemukan, Kepala Sekolah memberlakukan razia handphone. Murid-murid “diteror”, agar pintar dan jadi kebanggaan sekolah. Si murid tidak boleh salah dan sekolah harus hebat. Tidak ada kebahagiaan di wajah para murid. Keempat anak saya juga begitu sebelum yang pertama dan kedua di sekolah alam, dan yang ketiga dan keempat homeschooling.

Ada beberapa sekolah yang saya temukan berbeda seperti SMPN 1 Banyumas, SMPN 2 Mojokerto. Guru-gurunya inspiratif. Ternyata kepala sekolahnya memiliki pemahaman, bahwa 3 filosofi pendidikan ala Ki Hajar Dewantoro itu benar adanya; menemani, menyemangati, dan mengikuti. Di sekolahnya ada Duta Baca Sekolah, podcast, metode belajarnya diintegrasikan dengan dunia digital, membuat film pendek, dan perpustakaannya progresif. Dana BOS dibelikan juga buku-buku diluar mata pelajaran.



