Bapak dan Emak menyikapi hal itu dengang positif. Mereka mengenalkan kepada saya 3 kegiatan yang menyenangkan, yaitu olahraga (badminton), baca, dan mendengarkan cerita. Ketiga hal ini saya lakukan mulai kelas 5 SD hingga kuliah di Fakultas Sastra UNPAD Bandung. Hal ini juga sebaiknya dikenalkan kepada anak-cucu kita, agar tidak tenggelam dengan dunia digital.

Melakukan sesuatu secara kontinu dan konsisten, itulah yang saya niatkan. Saya kerja keras mengikuti perintah Bapak-Emak. Ridho Allah, ridho orang tua. Dan saya pun panen emas dari melakukan 3 hal itu. Ingin tahu Ini:

Alamdulillah, janji Allah SWT tidak bohong. Ikhtiar dan do’a. Inilah keajaiban itu. Allah bekerja dengan caranya yang misterius. Saya sangat bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah kepadaku. Silakan dicobakan kepada anak-cucu Anda.

Kebiasaan melakukan 3 hal tadi – berolahraga, membaca, dan mendengarkan cerita membawa saya menemui saudara sebangsa dan setanah air; dari Sabang sampau Merauke, dari kota ke kota. Juga ke 20 negara; mengenal banyak orang dan berinteraksi dengan mereka.

Di pekerjaan juga, tidak kaleng-kaleng. Saya bekerja di perusahaan-perusahaan besar. Seperti Kelompok Kompas Gramedia, free lance di ANTEVE, Script Writer di Indosiar, Kartini Group, Senior Creative di RCTI, dan asisten manajer Banten TV. Di organisasi juga, saya berkiprah. Skalanya nasional.

Betul-betul ajaib hidup saya. Ini memang karena kalau saya melakukan suatu pekerjaan, selalu meminta restu kepada Bapak-Emak. Saya tidak berani melakukan tanpa restu mereka. Saya juga menyadari, kesuksesan saya ini tidak berdiri sendiri. Banyak orang membantu dan mendoakan saya.

Bahkan banyak yang mendukung saya dengan memberikan penghargaan (walaupun itu bukan tujuan saya). Saya menganggapnya itu bonus. Puncaknya Perpustakaan Nasional RI menetapkan saya jadi Duta Baca Indonesia 2021-2025 meneruskan perjuangan Najwa Shihab.

Segala rezeki dan kesuksesan yang saya raih dan capai saya sebarkan kepada orang-orang. Sesuai dengan perintah Allah, bahwa di dalam ubuh kita atau rezeki kita ada hak orang lain. Allah hanya meminta 2,5% saja. Maka pada 1998, saya dan Tias dibantu sahabat seperti Toto ST Radik, Rys Revolta, Maulana Wahid Fauzi, Abdul Malik, Bagus Bageni, Firman Venayaksa dan para relawan membangun Rumah Dunia di halaman belakang rumah, kampung Ciloang, Serang-Banten.

Terima kasih kepada Bapak-Emak, kakak-adik, saudara, istriku Tias Tatanka dan keempat anakku, Eyang, sahabat, relawan Rumah Dunia, rekan kerja di Kompas Gramedia, Kartini Group, Indosiar, RCTI, Banten TV, ANTEVE, Cipta Muda Banten, Perpusnas RI, dan semua yang mendukung saya. Semoga amal-ibadah kalian dibales Allah SWT.
Gol A Gong


