Literasi Keluarga: Dari yang Tidak Suka Sekolah Hingga Jadi Doktor

Tiba harinya saya ke Jakarta. Tanpa ada kebanggaan lagi sebagai pemuda dengan kemeja flanel, celana jeans, ransel biru, rokok kretek, dan sebotol Brendy. Saya lebih banyak murung menduga-duga keadaan di Jakarta nanti, apakah saya akan sekolah lagi atau tidak.

Kak Syukri, membantu mencarikan kenalan kepala sekolah di perumahan Harapan Jaya, Bekasi Utara di mana ia tinggal. Kami dapat sekolah swasta. Bisa menerima saya dan langsung melanjutkan di kelas tiga. Walau sekolah sudah beberapa bulan berjalan, saya masih bisa mengikuti kelas dan tak berapa lama kemudian, ujian Ebta dan Ebtanas. Saya lulus dan bisa melanjutkan kuliah. Saat sekolah di sini, saya tak begitu merisaukan perbedaan usia. Di sekolah swasta ini, ada teman yang lebih tua dari saya.

Sayang, tak ada uang saat itu. Tak ada dorongan dari kakak untuk mengupayakan saya bisa mendaftar di perguruan tinggi di Jakarta atau di Makassar. Ia baru memulai bekerja kantoran. Saat itu ia belum bekerja di Lippo Cikarang. Ia sempat memberikan saya pekerjaan menjadi loper koran Republika yang saat itu baru terbit dan langsung kebanjiran pembaca. Kakakku membeli 40 langganan dari temannya dan saya melanjutkan pengantarannya. Dari sana saya bisa memiliki penghasilan selama setahun dan mengumpulkan uang untuk pendaftaran ke perguruan tinggi.

Saya beruntung, di masa menunggu itu, kakakku ini berlangganan jurnal Ulumul Quran dan rajin membeli buku-buku terbitan Paramadina. Belakangan, saat ia mulai menjadi kelas menengah karena pindah bekerja di Lippo Cikarang yang menguntungkan dari hasil pembebasan lahan-lahan warga Cikarang, ia mengikuti pengajian-pengajian khas kelas menengah Jakarta. Ia lalu akrab dengan orang-orang seperti Prof. Nurcholish Madjid, Dr. Komaruddin Hidayat, Bang Imad, dan orang-orang Paramadina. Saya beruntung bisa juga membaca buku-buku terbitan Paramadina yang rajin ia beli dan sejumlah diktat-diktat kajian Islam Paramadina yang rutin diadakan saat itu.

Dari membaca buku-buku dari kalangan Islam Neo-modernis ini, sangat berpengaruh pada kehidupan akademik saya selanjutnya di Unhas, khususnya di Jurusan Ilmu Politik di mana skripsi saya berjudul Pemikiran Politik Nurcholish Madjid tentang Masyarakat Madani dan Islam, Yes Partai Islam, No. Sedikit banyak juga, bacaan-bacaan itu membawa saya aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (sebenarnya tidak begitu aktif seperti kawan-kawan seangkatan yang sampai berhasil membangun cabang baru sekretariat HMI cabang Makassar Timur, seperti Andri Morteza dkk). >>> ke halaman berikutnya

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==