
Saat kuliah inilah, karena saya sudah diturunkan satu tingkat, lalu mangkir dari sekolah selama 2 tahun dan kemudian menganggur setahun, maka akhirnya saya baru kuliah di tahun 1995. Seharusnya saya kuliah di tahun 1991 atau 1992. Alhasil, kawan-kawan seangkatanku itu selisih 4-5 tahun dari saya. Ini yang membuat minder saat teman-teman berbincang soal usia. Kena buli atau minimal diketawain kalau ketahuan kelahiranku itu 73, sementara yang lain rata-rata 77 atau 78. Kalau diingat-ingat sekarang ini, lucu juga. Tapi saat itu, menjengkelkan juga sih. Malah mulai kerap menyembunyikan angka tahun sebenarnya ketika mulai ada urusan terkait tahun kelahiran. Saya malas kalau orang-orang mulai sibuk membilang-bilang usia lalu berakhir dengan kata, “tuamu, ishak di.”
Saya kuliah lima tahun, mestinya 4 tahun saja kalau saya mau berhemat waktu. Tapi karena kombinasi banyak hal, bukan karena malas, akhirnya lima tahun sudah cukup moderat. Sebenarnya bisa lebih cepat, tapi sial, usai KKN saya putus cinta. Saya sempat tidak berminat mengerjakan tugas akhir karena itu. Setelah move-on, saya baru bisa memacu penulisan skripsi setelah sempat ke Jakarta, bertemu dan mengobrol singkat dengan Prof. Nurcholish Madjid (semoga beliau damai di alam sana), dan membeli beberapa buku penting dari Cak Nur (lengkap) plus beberapa artikel lepasnya yang juga dibukukan, serta yang monumental buku Islam, Doktrin dan Peradaban. Saya melarutkan diri dalam bacaan dan mencoba menyelami setiap gagasan Cak Nur, khususnya gagasan-gagasan politiknya.

Lepas kuliah, saya lanjut belajar di beberapa komunitas. Salah satu yang cukup membekas adalah di PusKIT di Makassar dan Care Indonesia di Palu. Di sini, karena diikuti oleh teman-teman angkatan 1995 atau 1994, persoalan usia masih dibawa-bawa. Mulai berkurang atau tidak memikirkan soal hal itu, saat saya menikah dengan Ida Arianti Said dan ambil studi master di ISS The Hague, dan meraih gelar master. Paling tidak, jenjang pendidikan sudah lebih tinggi dan karena komunitas yang kutempati beraktivitas sudah lebih beragam usia. Bahkan saat organisasi kami, komunitas ININNAWA bergabung dengan INSIST Yogyakarta dengan anggota dari berbagai provinsi dan banyak di antaranya adalah senior dalam pergerakan (katakanlah angkatan 70-an), saya tak lagi memedulikannya. Saat itu sudah tahun 2010.

Di rentang waktu 2007 sepulang kuliah dari Belanda, saya mulai banyak belajar mengenai Advokasi dan pengorganisasian. Saya bergerak bersama teman-teman AcSI di Pasar-pasar lokal, utamanya di Pasar Terong. Saya bergerak bersama teman-teman SRP Payo-payo di desa-desa dan mengembangkan kecintaan bertani dan berdesa di kalangan orang-orang muda. Lalu pada 2013, saat saya menerima beasiswa doktoral di Jurusan Ilmu Politik UGM, saya malah larut dalam aktivisme difabel dan mulai rutin melakukan kajian disabilitas dan bergelut selekat-lekatnya dengan kawan-kawan yang terus dan terus bertambah banyak. Saya bisa menyelesaikan doktoral dengan karya penting dalam pergerakan disabilitas dan banyak lagi capaian-capaian kecil yang diraih bersama-sama.
Kami belajar dan bekerja bersama, dalam sulit maupun susah, dalam senang maupun gembira.

Satu hal lagi, di luar urusan publik itu, saya juga belajar menjadi seorang suami dan ayah bagi anak-anakku. Bukan hal yang mudah, karena hingga saat ini, saya masih terus menghadapi situasi-situasi yang tidak selalu sama, dan karena seringkali itu hal-hal baru, saya pun harus menyikapinya dengan kemampuan-kemampuan baru yang harus kupelajari untuk bisa menghadapinya.
Sekarang, 10 Oktober 2022, umurku sudah 49 tahun!



