Sejak mendirikan rumah baca atau perpustakaan masyarakat atau taman bacaan masyarakat (TBM) ini, kami tentu saja merasakan beberapa manfaat positif. Di antaranya adalah sebagai berikut:


Pertama, buku-buku koleksi kami bisa dibaca tidak hanya oleh kami, tetapi juga oleh orang lain, terutama anak-anak tetangga. Awalnya, saat pertama kali kami memajang buku-buku di beranda rumah, anak-anak yang mengaji di rumah kami (kami membuka pengajian setelah maghrib) dan orang-orang yang lewat di depan rumah kami hanya melirik-lirik sambil berbisik-bisik. Ternyata, mereka mengira buku-buku yang kami pajang itu untuk dijual. Namun, setelah kami bilang bahwa buku-buku ini gratis untuk dibaca, mereka memburunya seperti bajak laut menemukan peti harta karun. Adalah sangat menyenangkan bisa berbagi bacaan dan pengetahuan dengan orang lain.


Kedua, karena kami ngewarung, anak-anak bisa jajan sambil membaca buku bersama teman-teman mereka. Ada dua proses input yang terjadi di waktu yang sama; input makanan untuk badan lewat jajan dan input pengetahuan untuk pikiran dan hati lewat membaca. Proses input ini sangat penting karena akan sangat memengaruhi proses output di masa depan.

Ketiga, disadari atau tidak, kontak anak-anak dengan gadget menjadi berkurang. Aktivitas menonton video, bermedia sosial dan bermain gim digantikan dengan aktivitas yang lebih produktif, yaitu membaca buku—meskipun tidak semua video, media sosial dan gim itu selalu digunakan untuk membuang-buang waktu. Dengan membaca, sel-sel otak akan saling terhubung satu sama lain, dan itu berarti baik untuk perkembangan otak anak. Kecerdasan mereka akan bertambah dan imajinasi mereka akan terus berkembang.

Keempat, dua anak kamai, Eza (5 tahun) dan Nuh (bulan depan 2 tahun), bisa bersosialisasi dengan orang lain selain kami tanpa harus keluar rumah. Hal ini menjadi sangat berharga bagi anak kami yang sering merasa malu untuk bermain dengan anak-anak lain. Kini jumlah teman Eza dan Nuh terus bertambah. Kecerdasan sosial atau interpersonal intelligence mereka kian terasah.

Kelima, sudah pasti keberadaan rumah baca menjadi salah satu tempat untuk mempersiapkan anak-anak yang unggul di masa depan lewat literasi; membantu pemerintah dalam upaya gerakan literasi nasional dan mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar tahun 1945.

Barangkali itulah beberapa manfaat yang kami dapatkan saat mendirikan RBB. Semoga hal seperti ini bisa diminati banyak orang dan pada akhirnya menjadi sebuah gerakan yang massif di setiap kampung untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia.
Ardian Je, penulis dan pendidik; relawan Rumah Dunia. Kini ia mendidik di SMP Unggulan Uswatun Hasanah Cilegon. Buku mutakhirnya bertajuk Mendekatkan Siswa pada Buku (Gong Publishing, 2020).


