Duta Baca Indonesia bersama staff Pusat Analisisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dibawa dalam 1 mobil Hiace. Sore itu Kota Palembang diguyur hujan deras. Beberapa ruas jalan tergenang air dan macet. Dari Auditorium Bina Praja, kantor Gubernur Sumatra Selatan mibil melaju ke jalan Jenderal Sudirman.

Mobil parkir di belakang. Masih dalam kondisi hujan deras, satu persatu kami turun dan berlari memasuki kafe dari belakang. Kami diajak menikmati kuliner di Martabak HAR. Aku baru tahu HAR adalah sebuah singkatan setelah mas Gong bertanya kepada salah satu karyawan. Mereka memang memakai kaus gambar sesorang dengan sorban berspir di kepalanya.

Sosok itu adalah Haji Abdul Rozak, yang sekaligus menjadi nama rumah makan atau kafe ini. Di dinding-dinding kafe tertulis biografi dan tergambar sosok Haji Abdul Rozak. Usaha ini sudah turun-menurun. Hal itu tertulis di dinding kafe: bagi kami ini bukan sekadar sebuah usah, melainkan bentuk cinta kepada orang tua/kakek kami tercinta Haji Abdul Rozak.

Aku memesan martabak dengan telur bebek. Harganya 30.000 rupiah. Selain itu teh susu hangat dengan harga 15.000 rupiah. Bagi kalian yang tidak suka telur bebek ada juga telur aya. Harganya 25.000 rupiah. Sedangkan maetabak sayur 35.000 rupiah. Selain menu martabak, Martabak Harjuga menyiapkan menu lain seperti, mie, mempek, kwetiau, nasi minyak dan aneka minuman yang beragam.

Usaha ini mulai berjalan setelah 2 tahun Indonesia merdeka, atau sejak tahun 1947. Wah, luar biasa! Yang membuat kagun lagi Martabak HAR sudah membuka banyak cabang. Aku rasa orang datang ke Martabak HAR bukan hanya soal rasa, tapi juga karena cinta anak kepada orang tua. Tentu dengan warisan sejarahnya yang kaya.

Tak lama pesananku tiba. Aku mulai memotong-motong martabak. Tidak seperti mas Gong yang mengguyurkan kuah karinya ke martabak, aku lebih suka dan memilih mencelup atau mencocolkan martabaknya. Bumbu rempahnya sangat kuat. Rasanya menari-nari di lidah. Seperti makan roti canai.

Meski bukan makanan khas Palembang, Martabak HAR telah menjadi bagian dari kehidupan Kota Palembang. Martabak HAR sudah melegenda di tanah Sriwijaya. Selain itu Martabak HAR juga sudah menjadi potensi daerah, terutama dalam hal wisata kuliner.

Aku kembali menikmati lukisan di dinding kafe. Aku juga baru tahu bahwa Haji Abdul Rozak merupakan orang India. Beliau dari Kerala. Hal itu dituliskan di dinding kafe. Oh iya, aku menikmati Martabak HAR di Simpang Sekip .

Main ke Bumi Sriwijaya jangan cuma mencicipi pempek, coba juga Martabak HAR!




