Masih Pentingkah Koran Kita Baca, Saudara-saudara?

Di 200 titik kegiatan itu kami memberi pelatihan menulis kepada masyarakat biasa agar mereka bisa menuangkan gagasannya di era literasi digital ini. Dengan menulis, kecenderungan menyebarkan berita aau tulisan hoaks akan terkendali. Dengan menulis alam dunia maya kita pelan-pelan diisi tulisan-tulisan yang bermanfaat dalam bentuk status esai pendek, cerpen mini atau flash fiction, puisi, quote ciptaan sendiri atau dari buku yang dibacanya.

Kita tahu di era industri kreatif 4.0 ini menulis tidak lagi sekadar hobi, mengisi waktu luang atau untuk mengejar karir, tapi juga bisa jadi kegiatan bernilai ekonomi tinggi. Menurut Kepala Perpusnas RI Drs. Muhammad Syarif Bando, MM., “Hasil dari kebiasaan membaca adalah terciptanya barang dan jasa.”

Dan Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar kita melengkapinya, bahwa jika semua yang kita lakukan tidak dituliskan, maka kita akan terlindas oleh zaman.

Saat persiapan Safari Literasi Jawa-Bali-NTB-NTT, saya membaca status Pinto Janir – seniman dari Padang di akun FB-nya, tertanggal 1 Januari 2022. Hari pertama di 2022 – menurut saya dibuka dengan gagasan yang cerdas oleh Pinto Janir yang ala itu bekerja di Padang Ekspres (sekarang di koran Haluan – Red). Gagasan Pinto dalam skala lokal, mengajak warga Padang kembali membaca koran Padang Ekpress. Aksi lokal, tapi menurut saya memiliki jangkauan luas ke koran dari group besar lainnya seperti Kelompok Kompas Gramedia, Republika, Tempo, MNC, dan Media Indonesia.

Pertanyaan saya, “Gagasan Pinto Janir itu utopiakah? Di era literasi digital, kemudian mengajak orang-orang kembali membaca koran?”

Bisakah terwujud? Pertanyaan itu saya jawab sendiri: bisa. Dengan catatan: jika kita niatkan bersama.

Ya, kita tahu literasi digital sudah menggurita. Informasi bagai air bah, tak bisa lagi kita cegah. Kita kesulitan memverifikasi berita-berita di dunia maya yang bergerak dengan cepat. Kadang informasi itu berisi kebencian, fitnah, adu domba. “Kita canggung menyikapi era digital ini,” ucap Taufiq Ismail di Rumah Puisi, Padang Panjang, saat deklaasi Hari Sastra Nasional, sekitar 2013 kepada saya.

Pertanyaan saya: masih adakah koran di rumah kita?

Saat di Jakarta dan masih bekerja di RCTI, 1996-2008, saya berlangganan 7 koran. Saya mengenang masa itu sanga indah. Dunia informasi terkendali dengan baik. Hari-hari dilalui secara bertanggung jawab.

Di Rumah Dunia sejak 2002 pernah belangganan 5 koran; Koran Tempo, Kompas, Republika, Media Indonesia, dan Radar Banten. Kemudian pada 2020 tinggal Kompas dan Radar Banten, karena Koran Tempo, Republika, dan Media Indonesia sudah tidak ada di agen.

Hingga pada 2021, Rumah Dunia tidak berlangganan koran lagi karena relawannya berpindah ke media digital. Di rumah pun keempat anak kami tidak membaca koran tapi ke online. Sesekali kami membeli koran edisi hari Minggu. Kemudian persoalan agen dan loper koran yang hilang, kami kesulitan mengaksesnya.

Ketika membaca status Pinto Janir – yang menghimbau agar warga Padang membaca koran Padang Ekspres, sangat menggelitik. Anak dan cucu kita jangan sampai tidak membaca koran. Media online tetap kita akses, tapi koran dengan bau kertas dan tintanya tetap harus ada di rumah kita.

Bagi saya, membaca koran bisa jadi satu metode pembentukan karakter anak-cucu kita kelak. Ranah afektif mereka terasah. Dengan langsung membaca koran, perasaan dan emosi terlibat saat membaca judul dan berita.

Bagaimana dengan kamu?*

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==