Susah Deh Kalau Apa-apa Dilarang

Oleh: Zaeni Boli

Bukan eranya lagi melarang karya seni. Mengapa pemerintah begitu takut terhadap karya seni? Bukankah seni yang baik itu mengangkat realitas? Jika kondisi sebuah negara dengan oknum pejabatnya sedang melakukan hal-hal yang tidak baik, maka akan lahir karya-karya yang mencoba mengingatkan. Tugas seniman adalah memberikan peringatan lewat karya seni, sedangkan tugas pemerintah adalah mengambil pelajaran dari apa yang disuarakan—bukan malah melarangnya.

Tercatat, setidaknya ada tiga agenda dan karya seni yang dilarang pada era Presiden Prabowo Subianto. Pertama, pameran lukisan di Galeri Nasional yang beberapa karyanya dilarang untuk dipamerkan pada akhir 2024 lalu. Kedua, pementasan Teater Payung Hitam di Bandung pada 15 dan 16 Januari yang juga tidak mendapatkan izin dari pihak kampus. Terakhir, lagu Bayar, Bayar, Bayar dari band punk Sukatani. Imbas dari viralnya kabar ini, vokalis band tersebut harus rela dipecat dari tempatnya mengajar.

Ciri dari sebuah negara maju adalah tidak adanya lagi pelarangan yang berlebihan terhadap karya seni. Bangsa yang besar tidak takut akan kritik dari senimannya.

Bagaimana jadinya jika kelak generasi muda tidak lagi mengenal isu-isu perlawanan dari para seniman? Bisa jadi mereka akan menjadi generasi yang apatis terhadap keadaan dan mudah dikendalikan. Ujung-ujungnya, mereka akan mudah digiring pada suatu kondisi yang menyengsarakan, tapi mereka tidak mampu menyadarinya. Penting bagi sebuah negara untuk memiliki masyarakat yang kritis. Bukankah sikap kritis juga diajarkan di sekolah lewat Profil Pelajar Pancasila, yang salah satu poinnya adalah berpikir kritis?

Jangan ada lagi oknum-oknum yang melarang karya seni—bukan zamannya lagi!

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==