Kakek itu tetap dengan tujuannya: untuk muludan. Dia bercerita, setiap muludan tiba, orang-orang mengantarkan “panjang mulud” ke masjid. Nanti orang-orang di kampung sebelah datang untuk mengambil panjang mulud itu. Kalau dia kaya, maka panjang muludnya bisa beraneka ragam bentuknya. Ada yang berbentuk perahu, masjid, rumah dimana di dalamnya berisi sarung, baju koko, dan sembako, makanan-minuman lainnya, bahkan uang. Ini seperti hadiah-hadiah yang menggantung saat panjat pinang di Agustusan.

Dalam literatur, tradisi Panjang Mulud memiliki makna denotasi sebagai Tradisi yang menggambarkan kondisi rasa syukur dengan hadiah yang didapat oleh masyarakat Banten dari kerajaan Arab serta nilai ke-Islaman masyarakat Banten. Sebagai peringatan maulid Nabi Muhammad, Panjang Mulud dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriah. Panjang Mulud diselenggarakan di beberapa kota/kabupaten di Provinsi Banten, seperti di Cilegon, Serang, Pandeglang, dan Lebak.

Kalau di Solo biasanya “grebek mulud”. Tumpeng raksasa diarak sejak dari keraton hingga alun-alun. Saya pernah beberapa kali ikut merayakan di Solo sambil menikmati hiburan ala sekatenan. Betul-betul meriah dan membuat bahagia.
Kata guru ngajiku, “Ada tiga tujuan Maulid Nabi, yaitu: Untuk mengingat sejarah kelahiran Nabi Muhammad. Meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Menjalankan syariat agama Islam.”


Tahun 2024 ini perayaan maulud Nabi jatuh pada 16 September. Sejak hari Sabtu, di pinggir jalanan berjejer dijual “panjang mulud”. Di kampungku biasanya dirayakan denan panjang mulud yang beraneka rupa. Sangat meriah. tapi sudah 3 tahun ini tidak merayakannya, karena sedang membangun masjid yang megah. Dana masyarakat yang biasanya untuk panjang mulud dialihkan untuk menyelesaikan pembangunan masjid. Ini langkah yang tepat. (*)


