Membaca Koran Pagi di Singapura

Aku bergegas mengambil sikat gigi dan odol. Tidak mandi lagi, karena sudah tadi malam. Begitulah kebiasaan para pejalan, jika mandi sore atau malam, keesokan paginya tidak perlu mandi lagi, sehingga bisa menghemat waktu untuk menjelajah kota.

Aku segera menyeberangi jalan. Setelah adzan ada waktu 20 menit untuk sholat wajib. Jika kita datang lebih awal. kita bisa sholat tahiyatul masid dan qobla. Aku paling suka sholat subuh di sini. Itu sebabnya aku selalu menginap di Adamsonn Inn, Kampung Arab, setiap ke Singapura, yang persis di depan mesjid Sultan.

Untuk yang entah keberapa kali, aku menikmati lagi “Suatu Pagi di Singapura”. Setelah sholat subuh, aku menuju halte bus di Victoria Street. Aku tidak lagi kembali ke hotel. Aku tidak pernah melewatkan pagi di Singapura. Aku menyukai pagi di Singapura. Aku senang dan kagum melihat warganya yang bergegas tapi teratur dan disiplin jika mengantre masuk ke bus, MRT, bahkan sarapan. Aku seolah sedang kuliah tentang karakter manusia di sini.

Waktu di HP sudah pukul 07:30.

Aku naik bus nomor 133. Kemudian memasuki MRT Station, naik kereta jalur hijau tujuan Pasir Ris. Dengan membeli “tourist pass” seharga SGD 30 untuk tiga hari, memudahkanku berganti bus dan kereta tanpa mengantre, ini cara menghemat waktu.

Di lobi pintu masuk MRT , seperti biasa, ada nenek-kakek membagikan koran. Di Singapura, para manula tetap memanfaatkan waktunya dengan kegiatan positif. Menu pagi inilah yang saya suka. Selalu melihat koran dibagikan gratis. Hampir di setiap sudut kota. Literasi baca tulis mereka sudah jadi budaya. Perusahaan swasta banyak beriklan, sehingga koran bisa gratis. Paling menarik, rata-rata yang memanfaatkan koran gratis adalah para orang tua sedangkan anak mudanya asik dengan gawai.

Aku turun di Eunos MRT station. Aku ingin sarapan di sini. Begitu keluar dari areal peron, kali ini seorang nenek yang membagikan koran. Semua membutuhkan informasi di pagi hari. Mereka sangat terbuka dengan informasi.

Aku berkenalan dengan Susan, petugas yang bertanggung jawab dari perusahaan koran. Kata Susan, setiap pagi Ama dibayar SGD 5/jam. Sekitar 1200 “thenewpaper” habis selama 2 jam.

Setiap pagi, di setiap stasiun bis dan MRT, pemandangan ini yang biasa terjadi. Sudah jadi budaya mereka. Semoga di Indonesia juga begitu, sehingga kita tidak lagi dianggap “nol” membaca. Bayangkan, menurut penelitian UNICEF, dari 1000 orang Indonesia , hanya 1 orang yang membaca buku.

Bagaimana menurut Anda? *

Gol A Gong

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==