Sama halnya dengan rabeg, sate bandeng juga awalnya adalah makanan Sultan atau Raja Banten. Terbuat dari ikan bandeng yang tulang-tulangnya dipisahkan terlebih dahulu.
“Perpaduan daging ikan bandeng, santan dan rempah-rempah terasa pas di lidah. Rasanya juga gurih, tidak terlalu pedas dan memudahkan karena sudah tidak ada tulangnya,” sambungku.

Sedangkan nasi sumsum terbuat dari nasi bakar yang dicampur sumsum sapi dan rempah-rempah. Dikemas dengan daun pisang, lalu dibakar sampai matang.
“Makan nasi sumsum paling pas disantap ketika hangat. Wanginya yang khas membuat siapa saja ingin segera mencicipinya. Rasanya gurih, tidak anyir, dan kaya dengan rempah-rempah,” ujarku.

Untuk makanan ringan dan kue. Aku hanya mengenal tiga. Rengginang, jejorong dan cucur. Padahal ada banyak sekali makanan ringan dan kue khas Banten. Hampir semua daerah di Banten punya ciri khas makanannya masing-masing.
“Indonesia memang sangat kaya sekali, makanan yang beragam dari berbagai daerah ini harus kita jaga dan lestarikan sampai ke generasi selanjutnya,” kataku menutup presentasi.


