Kebanyakan dari mereka berjaket, bersepatu dan menggendong tas. Beberapa di antaranya para pelajar sekolah menengah dan ada juga tukang sayur yang berboncengan, yang sepeda motornya rimbun oleh kerupuk, tahu, ikan teri dan segambreng barang jualan lainnya.
Saya tetap berada di belakang plang bersama beberapa pengendara sepeda motor dan mobil yang lain, menunggu kereta melintas sambil mendengarkan bunyi nit … not … nit … not … yang asyik itu.

Ketika melihat pemandangan itu, saya tiba-tiba jadi bertanya-tanya pada diri sendiri: Kenapa mereka menembus batas plang itu? Apakah yang sedang mereka buru? Apakah mereka takut terlambat tiba di tempat tujuan masing-masing? Jika mereka terlambat, akankah ada hal menakutkan yang akan terjadi? Apakah mereka tak takut jika sesuatu yang buruk terjadi akibat ulah mereka itu? Atau sebegitu berharganyakah waktu hingga mereka jadi buru-buru? Apakah mereka sempat menikmati pagi yang puitis dan perjalanan yang mereka lakoni secara rutin itu?

Apakah mereka sempat membaca berita yang dirilis TEMPO.CO, berdasar catatan dari PT KAI, tiga tahun lalu yang melaporkan bahwa selama tahun 2018 hingga 2019 telah terjadi 655 kecelakaan di perlintasan kereta api yang menyebabkan ratusan orang mengalami luka berat dan puluhan orang meninggal karena para pengendara tidak menaati rambu yang dipasang di jalan?
Entahlah. Hanya mereka yang punya jawabnya. Namun pertanyaan-pertanyaan itu tak lekas hilang dari kepala saya seiring kereta di depan saya melintas menuju Merak dan perlahan-lahan plang mulai naik dan para pengendara mulai menyeberangi rel kereta yang masih mengilap karena terpaan cahaya matahari pagi itu.
Memang, tak ada hal buruk yang terjadi sepanjang pagi itu, di perlintasan kereta api di dekat Stasiun Krenceng itu. Tapi kita mungkin sepakat bahwa melewati plang, meski kita punya perhitungan sendiri dan tak sampai menerobos rel kereta api, bukanlah hal yang baik untuk dilakoni. *
Rumah Baca Bojonegara, Kamis, 25 Agustus 2022


