Puisi Esai Gen Z: Harga Sebuah Huruf, Untuk Sekadar Menjadi Pintar Saja Mahal Karya Wahyu Kuncoro

(Pesan terakhir dalam bahasa Ngada itu sederhana, namun daya rusaknya melampaui segala retorika. Seorang bocah SD pamit mati agar ibunya tak perlu lagi pusing memikirkan uang buku. Ini adalah kisah tentang logika kemiskinan yang mematikan akal sehat. Ia menukar masa depannya dengan ketenangan semu bagi keluarganya. Sebuah tragedi kemanusiaan yang memaksa kita bertanya: semahal itukah ongkos untuk sekadar menjadi pintar di negeri ini?  

Mengangkat kisah pilu siswa SD di NTT yang bunuh diri karena tak mampu membeli buku tulis.

Puisi esai ini adalah dramatisasi fiksi yang diangkat dari peristiwa nyata yang terjadi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR ditemukan mengakhiri hidupnya karena diduga tidak mampu membeli buku dan pena. Korban meninggalkan surat wasiat dalam bahasa daerah (Ngada) untuk ibunya, yang isinya menyatakan ia memilih pergi agar tidak membebani orang tuanya dan meminta ibunya untuk merelakan kepergiannya. Peristiwa ini menjadi ironi di tengah upaya pemerataan pendidikan di Indonesia.) 

-o0o-

Matahari di Jerebuu jatuh tegak lurus, memanggang ubun-ubun, 

seolah ingin memastikan tak ada air mata yang tersisa untuk menetes hari ini. 

Bocah itu berjalan menyeret kaki. 

Debu-debu merah menempel di betisnya yang ringkih, 

menggendong tas sekolah tua yang melorot lesu. 

Ia meraba saku celananya. 

Ada lubang kecil di sana. 

Jari telunjuknya menembus kain tipis itu,

menyentuh paha. 

Kosong. 

Selalu kosong. 

-o0o-

Ia pulang ke rumah yang dindingnya bolong-bolong, 

tempat angin malam biasa masuk tanpa permisi dan tidur di sampingnya. 

Sore itu, 

Meja makan hanya menyajikan sepi. 

Di sudut ruangan, 

Ibu sedang menghitung uang receh. 

Bunyinya gemerincing. 

Di dapur, Nenek sedang merebus air, 

menipu perut agar dikira sedang menanak nasi.

“Mak,” katanya lirih.

“Buku tulis sudah habis, pena pun isinya sudah kering.” Akhirnya kalimat itu meluncur deras. 

Ibu tidak menoleh. 

Bahunya hanya bergetar sedikit. 

“Nanti ya, Nak. Tunggu mak ada uang.” 

Jawaban itu adalah hujan abu. 

Kelabu. 

Menutup paru-paru. 

-o0o- 

Malam turun memeluk kampung.

Angin malam menyusup lewat dinding anyaman bambu, 

membawa kabar tentang dingin. 

Bocah itu berbaring. 

Matanya menatap langit-langit kamar yang bolong. 

Ia berdialog dengan cicak yang diam di plafon. 

Sebuah monolog sunyi yang bising di kepala. 

“Kalau aku minta uang buku, besok kita tidak makan. Kalau aku tidak beli buku, aku tidak bisa mengikuti pelajaran dari kelas. Kalau aku tidak sekolah, aku jadi bodoh seperti Bapak yang pergi entah kemana. Tapi kalau aku sekolah, aku membunuh Emak pelan-pelan.” 

Matematika kemiskinan itu rumit, 

tapi ia memecahkannya dengan cepat. 

Hasil baginya adalah nol. 

Sisa baginya adalah nyawa. 

Ia merasa dirinya adalah benalu. 

Ia menatap celengan plastik ayam jagonya yang sudah dibelah minggu lalu. 

Kosong melompong. 

-o0o-

Subuh masih jauh, tapi ia sudah terjaga. 

Atau mungkin, ia memang tak pernah tidur. 

Ia menemukan kertas untuk menulis pesan kematian.

Pena di tangannya terasa berat, 

tintanya mungkin tinggal setetes, 

cukup untuk menuliskan perpisahan. 

Ia mulai menggoreskan huruf demi huruf dalam bahasa Ngada, 

bahasa ibunya, 

bahasa yang paling jujur untuk mengucapkan selamat tinggal. 

Di tangannya, seutas tali nilon biru tergulung rapi. 

Tali bekas pengikat sapi. 

“Mungkin di surga, buku dibagikan gratis,” bisiknya. 

-o0o-

Ia memanjat kursi reyot itu. 

Tali itu melingkar. 

Dingin. 

Menggigit kulit lehernya. 

Ia gantungkan cita-citanya di sana, 

bersama tubuh kecilnya yang ringkih. 

Detik itu, waktu berhenti. 

Angin menahan napas. 

Kursi itu terguling. 

Gubrak. 

Suara jatuh yang pendek. 

Selebihnya adalah sunyi yang panjang. 

Abadi. 

Tubuh itu tergantung. 

Kaku. 

Seperti tanda baca seru di akhir kalimat yang belum selesai ditulis. 

-o0o-

Emak menemukannya saat matahari sudah condong ke barat. 

“Bangun, Nak! Ini Mamak! Jangan tinggalkan Mamak!” raungnya. Suaranya memecah pagi.

Jeritan itu—ah, 

tidak ada huruf yang bisa mewakili bunyi jeritan seorang ibu yang melihat putranya tergantung kaku. 

Jeritan itu merobek langit Flabomora,

membuat burung-burung bubar dari sarangnya. 

Lalu matanya tertumbuk pada surat itu. 

Ia membacanya dengan pandangan kabur oleh air mata. 

Kata-kata dalam surat itu menghunus jantungnya lebih tajam dari belati. 

Anaknya mati agar ia tidak susah. 

Anaknya mati karena sebuah buku. 

Air matanya tumpah lagi, membanjiri lantai tanah yang kering, 

tapi tidak pernah cukup menghidupkan kembali detak jantung itu.  

1). Tragedi Anak SD di NTT Meninggal Dunia Usai Buku Tak Terbeli, Potret Buram Pendidikan 

Sumber: https://m.tribunnews.com/nasional/7786344/tragedi-anak-sd-di-ntt-meninggal-dunia-usai-buku-tak-terbeli-potret-buram-pendidikan

Tentang Penulis:

Wahyu Kuncoro, hanyalah sosok biasa yang tidak bisa terbang ataupun meramal masa depan. Keajaibannya tersimpan di larut malam, saat ia merawat kewarasan melalui obrolan panjang dengan dirinya sendiri. Anggaplah puisi-puisinya sebagai oleh-oleh dari perdebatan batin yang sunyi itu. Jangan ragu menyapanya, walau mungkin ia tampak diam karena sedang sibuk berdiskusi di dalam pikiran. Selamat menikmati kepingan kewarasan yang ia bagikan lewat kata-kata. Ia sangat senang kamu menyempatkan waktu untuk membaca ini.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:


golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==