Puisi Esai Gen Z: Laju Berhenti di Titik Nadir Karya Wahyu Kuncoro

(Menyusuri jalanan di Maluku, puisi ini menangkap momen-momen terakhir seorang pelajar sebelum dunianya gelap. Ada kejujuran yang pedih dalam setiap baitnya; bahwa arogansi seringkali salah menerjemahkan, dan responsnya adalah kekerasan yang merobek nalar kewarasan kita semua.

Puisi esai ini diangkat dari peristiwa nyata di Tual, Maluku. Seorang oknum anggota Brimob menganiaya seorang siswa SMP hingga tewas bersimbah darah menggunakan helm. Tragedi bermula dari kesalahpahaman aparat yang mengira korban yang tengah melaju kencang karena kontur jalanan menurun di pagi hari sedang melakukan balap liar. Berita ini menambah catatan kelam kekerasan oknum penegak hukum terhadap warga sipil di Indonesia.)

Link Berita: https://rejogja.republika.co.id/berita/tasy2a282/anggota-brimob-pukul-siswa-smp-di-tual-maluku-pakai-helm-hingga-tewas

-o0o-
Baskara baru saja menyentuh pucuk kemiri.
Pagi merangkul jalanan yang masih separuh mengantuk.
Kabut tipis masih tersangkut di ranting kenari.

Dua anak lelaki membelah kabut tipis,
beriringan dengan kuda besi masing-masing.
Mereka membiarkan tarikan bumi mengambil alih.

Jalanan menurun, melandai dan panjang.
Bebas.
Mengalir seperti sajak yang enggan usai.
Angin bersiul nakal menyapu helai rambut mereka yang lugu.
Di dada mereka, murni bertahta kelegaan pagi.

“Hati-hati. Turunan tajam.” teriak sang kakak.
Sang adik hanya tersenyum riang.
Laju motor bertambah secara alami
Ia hanya membiarkan turunan itu membawanya menari.
Bibirnya menyunggingkan senyum tipis…
menyambut hari…

-o0o-
Hukum fisika menarik roda semakin lekas.
Namun, maut ternyata bangun lebih pagi.
Di ujung jalan, sesosok bayangan berdiri.
Menantang.
Angkuh.
Berbalut seragam tebal.
Di dadanya tersemat lencana pengayom,
sebuah simbol yang perlahan membusuk dalam ingatan kita.

“Tikus-tikus liar,” desisnya berprasangka.
Rasa kuasa membutakan nalar.

Lelaki itu melompat ke tengah jalan.
Matanya nyalang merangkum curiga.
Suara mesin di jalanan menurun diterjemahkan sebagai arogansi.

-o0o-
Sang pelindung meradang.
Sebuah pelindung kepala berkelebat garang.
Benda keras itu merobek udara.
Menghantam wajah polos yang sedang berpacu dengan angin.
Menjemput petaka.

Brak!
Besi mencumbu paksa tulang rawan.
Tulang-tulang berderak, patah merengkuh senyap.
Udara seketika berhenti mengalir.
Roda kehilangan sumbu,
terpelanting menjilat debu.
Merah merayap liar menjalar.
Darah hangat menyiram batu-batu jalanan yang dingin.

Bumi seketika meminum anyir darah yang mengalir deras dari celah wajahnya.
Denyut nadi melambat,
lalu pupus ditebas keangkuhan beringas.

-o0o-
“Ibu… kepalaku sakit… aku mau pulang…” erangan itu patah-patah ditelan angin.
Buih merah merembes lambat dari hidung.
Menggantung di sudut bibir.
Mengering di atas aspal dingin.

Sang kakak membanting kemudi.
Berlari dengan lutut bergetar hebat.
Tangan ringkihnya merengkuh tubuh yang mulai mendingin.
“Bangun… Tolong, bangun…” Suaranya patah-patah, ditelan lengang.
Memburu ketakutan.
Tersedak debu, darah, dan air mata.
Hanya napas putus-putus yang berlomba dengan detak jantung yang kian meredup.
Anak itu terpejam diam.

Sang bayangan tegap berdiri angkuh.
Menatap sangkaan butanya yang kini menjelma mayat.
Tak ada getar sesal di wajah sang ksatria.
Kuasa telah menelan habis nuraninya.

-o0o-
Aku memejamkan mata dari jauh.
Muak bergelayut berat di pelupuk.
Catatan merah ini kembali basah, membusuk di sudut ingatan kolektif kita.
Lencana di dada mereka selalu berkilau cemerlang di bawah matahari.
Sayangnya, kilau itu menyilaukan mata nurani mereka sendiri.

Satu lagi nyawa sipil direnggut.
Catatan darah itu makin panjang.
Kemarin, lusa, hari ini.
Berapa banyak lagi tubuh ringkih yang harus rebah oleh tangan bersarung wewenang?

Sang gembala kini leluasa menjelma serigala.
Memangsa domba-domba kurus yang seharusnya ia jaga.

-o0o-
Pagi berkalang tanah.
Kota ini kehilangan satu lagi tawa murninya.
Keadilan menjelma rongsokan aksara di dalam buku tebal kepolisian.
Sang anak pulang membawa luka yang menembus nalar kewarasan kita.

Kita adalah kawanan pejalan malam.
Membawa lentera terang ke mana-mana, menunggu lelap dalam buaian rasa aman.
Nyatanya atap rumah kita runtuh menimpa kepala kita sendiri.

-o0o-
Kini, seorang perempuan renta mengusap nisan baka yang tanahnya masih basah.
Air matanya telah tandas.
Digantikan telaga kebingungan yang teramat palung.

Anaknya mati.
Dibunuh oleh tangan yang seragamnya dibeli dari peluh dan pajaknya sendiri.

Bila payung justru menurunkan hujan batus…
Bila sang pelindung justru menyebar maut…
Kepada siapa lagi kita harus menyembunyikan rasa takut..

Anggota Brimob Pukul Siswa SMP di Tual Maluku Pakai Helm Hingga Tewas

Tentang Penulis

Wahyu Kuncoro, hanyalah sosok biasa yang tidak bisa terbang ataupun meramal masa depan. Keajaibannya tersimpan di larut malam, saat ia merawat kewarasan melalui obrolan panjang dengan dirinya sendiri. Anggaplah puisi-puisinya sebagai oleh-oleh dari perdebatan batin yang sunyi itu. Jangan ragu menyapanya, walau mungkin ia tampak diam karena sedang sibuk berdiskusi di dalam pikiran. Selamat menikmati kepingan kewarasan yang ia bagikan lewat kata-kata. Ia sangat senang kamu menyempatkan waktu untuk membaca ini.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==