Puisi Esai Gen Z: Subuh yang Tidak Membawanya Kembali Karya Khalidah Abdullah

Atas guratan perjuangan dokter internship di negara ini yang telah gugur dalam pengabdiannya, dr. Myta Aprilia Azmi dan sejawat lainnya, puisi ini ditulis untuk refleksi dan mengenang peristiwa tragis di balik kata intern/pelatihan. Di tengah dunia yang kadang tidak adil, tajam ke bawah dan tumpul ke atas, semoga calon dokter atau dokter muda lainnya sedikit merasa terwakilkan atas dukacita ini:

Link Berita: https://www.kompas.id/artikel/empat-dokter-internship-meninggal-dalam-tiga-bulan-pdui-ini-alarm-serius

Di sebuah kota yang tak pernah benar-benar tidur,
lampu rumah sakit menyala seperti bulan
yang dipaksa terus terjaga.
Lorong-lorongnya dingin,
bau obat bercampur dengan kecemasan,
dan suara langkah tergesa
menjadi musik paling setia setiap malam.

Di sana,
seorang dokter muda hidup
dengan jam tidur yang patah-patah.
Usianya belum genap terlalu dewasa,
tetapi pundaknya sudah dipenuhi
nyawa orang lain.

Ia datang dari rumah sederhana
yang temboknya dipenuhi doa ibu.
Dulu, saat kecil,
ia bermain dokter-dokteran memakai selimut putih
dan mendengarkan detak jantung boneka
dengan stetoskop mainan murah.

Tak ada yang memberi tahu
bahwa ketika dewasa nanti,
jas putih bisa terasa seperti kafan
bagi mimpinya sendiri.

Hari-harinya habis di ruang jaga.
Pagi terasa seperti sore,
malam terasa seperti pagi,
dan tubuhnya lupa
bagaimana cara beristirahat.

Di luar rumah sakit,
orang-orang menganggap dokter adalah pahlawan.
Mereka melihat senyum profesional,
tulisan resep yang tergesa,
dan langkah cepat menuju ruang tindakan.

Mereka tidak melihat
bagaimana dokter muda itu
diam-diam menelan sakitnya sendiri.

Ia mulai batuk lebih sering.
Napasnya pendek seperti kalimat yang putus di tengah jalan.
Kepalanya berat,
matanya merah,
tetapi jadwal jaga tetap berdetak
lebih keras daripada rasa sakit.

“Sedikit lagi.”

Kalimat itu terus ia ulangi
kepada tubuhnya sendiri.

Sedikit lagi visit pasien.
Sedikit lagi laporan.
Sedikit lagi jaga malam.
Sedikit lagi bertahan.

Namun, manusia bukan lilin
yang bisa terus dibakar
tanpa akhirnya habis.

Suatu dini hari,
langit masih gelap seperti kabar buruk yang belum diumumkan,
ia duduk sendirian di kursi jaga.
Monitor pasien berbunyi nyaring,
perawat berlari kecil,
dan dunia terus bergerak
meski paru-parunya terasa tenggelam.

Di sakunya,
ada pesan dari ibu yang belum sempat dibalas.

“Hati-hati di sana. Jangan lupa makan.”

Pesan sederhana
yang selalu datang terlambat dibaca
oleh anak-anak yang terlalu sibuk menyelamatkan orang lain.

Ia menatap langit dari balik jendela rumah sakit.
Tak ada bintang.
Hanya lampu kota
dan tubuh yang perlahan kehilangan tenaga.

“Aku gak kuat lagi…”

Mungkin saat itu ia sadar,
bahwa kelelahan juga bisa membunuh
dengan cara yang sangat sunyi.

Bukan lewat ledakan.
Bukan lewat darah yang menggenang.
Melainkan lewat hari-hari panjang
yang mengikis manusia sedikit demi sedikit.

Seperti ombak kecil
yang terus menghantam batu
sampai retak tanpa suara.

Paginya,
kabar duka menyebar lebih cepat daripada ambulans.
Orang-orang terkejut.
Media sosial penuh belasungkawa.
Semua bertanya mengapa.

Padahal jawabannya
sudah lama berdiri di depan mata:
karena terlalu banyak manusia muda
dipaksa kuat oleh sistem
yang lupa cara berbelas kasih.

Karena di negeri ini,
lelah sering dianggap kurang bersyukur.
Sakit dianggap kurang tangguh.
Dan istirahat dianggap kemewahan.

Setelah hari itu,
ruang jaga tetap dipenuhi cahaya putih.
Pasien tetap berdatangan.
Alarm monitor tetap berbunyi.
Dan dokter-dokter muda lainnya
tetap berjalan cepat
sambil menyembunyikan letih
di balik masker dan senyum profesional.

Tidak ada yang benar-benar berubah.

Hanya saja sekarang,
setiap kali dini hari datang
dan lorong rumah sakit terasa terlalu sepi,
beberapa orang mulai mengerti:
bahwa jas putih
tidak pernah membuat seseorang kebal
dari rasa sakit.

Dan bahwa kadang-kadang,
yang paling membutuhkan pertolongan
justru mereka
yang sepanjang hidupnya sibuk berkata,

“Pasien berikutnya, silakan masuk.”


Sumber/Referensi Puisi Esai:
https://www.dpr.go.id/kegiatan-dpr/berita/Empat-Dokter-Internship-Meninggal-Diduga-Karena-Beban-Kerja-Legislator-Dorong-Pembentukan-Tim-Investigasi-64959

https://www.kompas.id/artikel/empat-dokter-internship-meninggal-dalam-tiga-bulan-pdui-ini-alarm-serius

Tentang Penulis:

Khalidah Abdullah pemilik blog www.khalidaoway.blogspot.com yang tengah berusaha merespon isu sosial dan lingkungan dengan kemampuan menulisnya yang ditekuni sepenuh hati. Baginya, isu sosial bukan hanya yang “bold” sebagaimana pemerkosaan, bullying, dan sebagainya. Isu “Ikan Sapu-Sapu” yang diangkat olehnya ini meski nampak sepele, namun ia memiliki indikasi kuat terhadap nasib lingkungan di tanah air. Hal itu sama pentingnya dengan isu kemelencengan adab yang hingga kini tak pernah habis dibahas.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==