Puisi Esai Gen Z: Tangan Balita Itu Dirantai Karya Zulfa Wafirotul Khusna

TRIBUN-MEDAN.COM – Pilu bocah 5 tahun di Lampung Selatan dirantai orangtua nya setiap hari. Bocah berusia 5 tahun berinsial SN ditemukan dalam kondisi mengenaskan di rumahnya sendiri. Setiap hari SN dirantai oleh orangtuanya yang pergi bekerja. Parahnya lagi, ia hanya diberi segelas kopi. Senin 20 Oktober 2025.

oOo

Di sebuah rumah beratapkan genteng dengan lantai beralaskan tanah, ada seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang terkurung dengan kondisi memprihatinkan.
“Kamu jangan menjerit meminta tolong, kalau tidak kami tidak akan memberikan minum untuk kamu,” ancam seorang laki-laki paruh baya yang dipanggil ayah.

“Ingat, jika kamu memberontak ibu tidak akan segan memukuli kamu dengan rotan,” gertak Ibunya dengan sorot mata yang tajam.
Anak perempuan itu hanya terdiam membisu menatap sosok ayah dan ibu yang justru tega menyiksa putrinya.

Tangan terbelit rantai,
Suara lirih meminta tolong,
Terduduk lemas di lantai beralaskan tanah,
Perut menjerit meminta untuk diisi,

Mereka pergi meninggalkan anak perempuan tanpa belas kasihan,
Termenung meratapi nasib yang pilu,
Secangkir kopi menghapus dahaga,
Luka lebam membiru akibat pukulan,
Mentari bersinar memberikan harapan,
Terdengar ketukan pintu dari luar,
Bibir tersenyum simpul akhirnya ada jalan keluar.

Para tetangga was-was karena sudah beberapa hari tidak melihat anak perempuan itu, apalagi ketika malam terdengar suara tangisan anak kecil perempuan yang disiksa oleh kedua orang tuanya.
Suara tetangga terdengar cemas.

“Dek, kamu dengar suara kami?”
“Disini ada orang?”
“Bertahan ya! Kami akan mencoba menolong kamu.”
“Iya aku disini, tolong bantu aku,” ucap anak kecil perempuan berusia 5 tahun dengan lirih.
Brak….

Suara pintu berderit dengan nyaring. Para tetangga datang terpogoh-pogoh melihat kondisi anak perempuan itu. Mereka berusaha membuka rantai yang membelit tangan dan kakiku.

“Akhirnya bisa terlepas,” ujar salah satu laki-laki paruh baya yang berhasil membuka rantai.
Seorang wanita paruh baya langsung memeluk anak perempuan itu. “Kamu ikut Ibu ke puskesmas untuk diobati lukamu.”

Wajah anak itu pucat pasi, bajunya lusuh, rambut berantakan dengan luka di tangan dan kaki. Anak perempuan itu hanya mengangguk kecil. Ia bisa bernapas lega setelah berhari-hari terkurung di gudang dari pagi sampai malam. Orangtua begitu egois mengurungnya ketika mereka bekerja dengan dalih agar anaknya tidak pergi bermain.

Anak perempuan itu kini terbaring lemah di ranjang dengan tangan yang sudah di infus. Matanya mengerjap menatap langit kamar pasien. Seorang wanita paruh baya yang tadi menolongnya tersenyum ke anak perempuan itu.

“Bagaimana kondisimu, dek?”
Anak perempuan itu menggeleng lemah. “Sakit,” lirihnya sambil menetap ke arah kaki dan tangannya yang kini sudah diperban.

“Di mana orang tua kamu?” tanya wanita paruh baya itu.
“Ibu sama ayah kerja,” jawabnya menunduk ke bawah.
“Mengapa kamu dikurung dan dirantai, Dek?” tanya wanita itu lagi.

“Biar aku tetap di rumah dan tidak boleh bermain di luar.” Anak kecil teringat sebelumnya ia pernah diperbolehkan keluar untuk bermain, tapi ia membuat kesalahan dengan pulang magrib ketika orang tuanya sudah selesai bekerja dan ayahnya murka sehingga memberikan hukuman kepadanya.

“Sungguh tega sekali orangtua mengurung dan merantai kamu sampai legam begini,” ujar wanita paruh baya itu prihatin melihat kondisi anak perempuan itu. Ia mengambil buah dan memberikannys kepada anak perempuan itu.

“Enak?”
Anak kecil itu mengangguk-angguk kecil. Ia bahagia akhirnya bisa bebas.
Wanita paruh baya itu bertekad untuk melaporkan kedua orang tua anak perempuan itu agar mereka mendapatkan pelajaran yang setimpal.

Anak kecil kini bisa merasa hidup kembali,
Cahaya dalam dirinya semula redup kini menjadi terang.

oOo

Referensi:

https://www.kompas.tv/regional/624166/bocah-dirantai-dalam-rumah-tanpa-makanan

https://www.msn.com/id-id/berita/other/pilu-bocah-5-tahun-di-lampung-dirantai-setiap-hari-orangtuanya-cuma-beri-segelas-kopi/ar-AA1OLkrX

https://www.beritasatu.com/nusantara/2932877/bocah-5-tahun-dirantai-ditinggal-orang-tua-bekerja-tanpa-makanan

oOo

TENTANG PENULIS: Zulfa Wafirotul Khusna, lahir di Jepara, 6 Agustus 2005. Mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Menulis adalah menuangkan segala perasaan dan pikiran. Penulis 35 buku antologi dan 1 naskah solo berjudul “Zii untuk Zio” Saat ini, penulis berdomisili di kota Jepara. Ia bisa dihubungi lewat media instagram @zuna_wa atau email khusnazulfa88@gmail.com. Nomor rekening: 901361070055 (sea bank)

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Z terbit setiap ari Rabu. Ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 150 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==