“Silahkan diteguk kopinya.
Jujur saja ini kopi pabrik,” suara itu
menusuk di telinga.
Malam itu kau menolak kopi arang
memilih membakar tubuhmu di tungku
minta dimasukkan ke gelas kopi
bunyinya membikin ngilu di pipi

Kau menyuruhku mengaduknya
membuang segala racun kafein
meminumnya dengan sate bintang
agar mengerti rindumu kepadaku
tak berbalas perih hujan
“Aku tak mau ke kebun kopi.
Aku ingin café kopi,” kau keluar
dari gelas kopi. Tubuhmu berlumur tanah.
Malam purnama masih tanpa bulan
kita menyusuri Yogya hingga ke selatan
melarungkan tubuh sendiri
kami terapung bersama ribuan plastik kopi.
*) Yogyakarta, 22 Februari 2010

Halaman: 1 2

