Kau meminta mas kawin kepadaku
menyulap apartemen jadi kebun kopi
mengganti kucing dengan luwak
mengusir Starbucks ke negeri asal
melemparku ke kereta bawah tanah
“Tubuhmu penuh luka,” kau berteriak.

Aku ingin kau meminangku saat purnama
meniduriku di ranjang pengantin negeri awan
menyeduhkan kopi buat pelanggan di kedai
milik kita di kampung halaman berdebu
tapi purnama kembali tak bercahaya
aku terkurung di etalase tanpa kaca
memasang beragam harga di tubuhku
Aku masih ingin terus di sini bersamamu
siang malam menyusuri trotoar menganga
menguburkan mimpi kita tentang kebun kopi
: aku mencari-cari pusaramu!
*) Singapura 20 Maret 2012, puisi ini termuat di buku puisi “Air Mata Kopi’ (Gramedia 2014)



