Puisi-puisi ini lahir dari ruang sunyi yang sering kita abaikan: saat kita kehilangan, saat kita
menatap kematian, saat kita menyambut kelahiran, saat waktu terus berjalan, dan saat perubahan
menuntut keberanian.
Setiap bait adalah jejak kecil dari perjalanan manusia yang rapuh sekaligus tabah, luka sekaligus
penuh harap.
Semoga ia bisa menjadi cermin sederhana, bahwa kita semua sedang berjalan dalam proses yang
sama: menjadi, melepaskan, dan merawat.
Angelita Puspa Rachmawati
oOo

Puisi Angelita Puspa Rachmawati
SEBERPA JAUH
Seberapa jauh
seorang anak harus berjalan
untuk menemukan ibunya
yang menghilang dari peta
tanpa sempat menuliskan alamat pulang?
Langkah-langkah kecilnya
menyusuri lorong yang digambar kabut,
menyentuh pintu-pintu
yang tak lagi mengenal ketukan.
Ia bertanya pada dinding,
pada bayang-bayang
yang tak sempat menoleh.
Di jalan itu,
sepasang sandal tergeletak
tanpa arah hadap.
Masih hangat.
Masih utuh.
Tapi tak ada suara
yang memanggilnya kembali.
Seberapa jauh
kata “selamat tinggal” bisa mengendap
dalam dada yang belum belajar menangis?
Lalu menjadi desir
di sela sunyi
yang tak pernah diundang untuk bicara.
oOo
Puisi Angelita Puspa Rachmawati
SEJAK SEMULA
Sejak semula,
hujan bukan sekadar air dari langit.
hujan adalah pesan rahasia,
dibisikkan langit pada bumi
dengan suara paling lirih.
sejak hari itu,
kau berubah menjadi hujan—
turun tiba-tiba,
menetap sebentar,
lalu pergi
tanpa benar-benar selesai.
Aku menyimpanmu
dalam lemari ingatan
yang tak pernah kututup rapat.
Selembar baju terakhir
masih beraroma senyummu.
Sejak semula,
kau tidak diciptakan untuk tinggal.
Kau adalah musim,
yang datang untuk membuatku belajar:
bahwa kehilangan bukan kiamat,
melainkan bentuk lain dari mencintai tanpa memiliki.
Aku pernah berdoa
agar waktu membeku di hari terakhir kita berbicara.
Tapi waktu bukan air
yang bisa kutampung di genggaman.
Ia terus mengalir—
membawamu menjauh,
dan menyisakan aku
di tepi perasaan yang asing.
Sejak semula,
kau sudah tahu:
aku buruk dalam melepaskan.
Aku menanam doa
di bawah bantal,
mengganti rindu dengan tidur panjang
yang tak pernah lelap.
oOo
Puisi Angelita Puspa Rachmawati
PADA AKHIRNYA
I.
Pada akhirnya,
kita hanya dua nama
yang gagal jadi alamat.
Aku menunggumu
di simpang yang tak jadi kota.
Kau menjemputku
dengan hujan yang lupa arah pulang.
II.
Kita pernah bicara panjang,
tentang pohon-pohon yang tumbuh dari luka,
tentang lampu-lampu yang dinyalakan dari kehilangan.
Tapi siapa yang tahu—
kalimat paling jujur adalah kalimat
yang tak pernah kita ucapkan.
Dan pelukan,
hanya upacara diam
bagi tubuh yang tak ingin saling tinggal.
III.
Pada akhirnya,
tak ada yang benar-benar pergi.
Hanya menjelma bayangan
di dalam cermin yang tak lagi kita tatap.
Kadang aku mendengarmu di piring kosong,
di baju yang belum dicuci,
di kucing tetangga yang menunggu pulang.
dan suara lembut
dari gang sempit sehabis hujan.
IV.
Setiap kehilangan
adalah perayaan yang terlambat.
Kita tiup lilin-lilin dari air mata,
dan berharap lupa tidak pernah benar-benar ada.
Pada akhirnya,
yang tersisa hanyalah:
satu jam tangan mati,
dua pesan belum dibaca,
dan tiga kata
terkubur di tenggorokan.
oOo

Puisi Angelita Puspa Rachmawati
JAM YANG MELELEH
Di dinding kamar, jam perlahan mencair.
Jarumnya menetes bagai lilin,
meninggalkan noda di lantai,
merekam detik-detik
yang tidak lagi sempurna.
Aku mencoba menampungnya dengan tangan,
namun waktu mengalir seperti pasir,
menyelinap di sela jari,
menghapus jejak
sebelum sempat kupeluk.
Kadang ia hadir dengan wajah renta,
menyeret langkah yang berat.
Kadang ia secepat bocah
yang berlari tanpa arah,
meninggalkan kita dalam kelelahan.
Kita pun hanyalah bayangan
yang terus mengejar siluetnya,
berharap tiba di ujung jalan,
meski diam-diam tahu:
tidak ada siapa pun
yang pernah benar-benar sampai.
oOo
Puisi Angelita Puspa Rachmawati
KEKASIH YANG TERTINGGAL DI BAYANGAN
Kekasih,
aku berjalan terlalu jauh
mencari jejakmu di tanah basah.
Di antara lumut dan akar,
namamu lenyap,
seperti huruf yang diguyur hujan
dari buku yang tidak sempat kututup.
Kekasih,
aku terus memanggil pelan.
Udara menolak mengembalikannya.
Doa-doa yang kuucapkan
hanya menggantung di langit,
tak pernah jatuh
menjadi jawaban.
Kekasih,
kehilangan terasa seperti panggung
yang lampunya padam terlalu cepat.
Tirai menutup rapat.
Aku berdiri sendirian,
mengulang dialog
yang tak lagi punya lawan.
Kekasih,
wajahmu tersimpan di kaca retak.
Setiap pecahan
masih menyimpan sedikit cahaya kita,
meski bayangannya terbelah-belah,
meski tak pernah utuh.
Kekasih,
aku belajar perlahan:
kehilangan bukan hilang.
Ia hanya berpindah bentuk—
dari pelukan yang hangat
menjadi bayangan panjang
yang tetap menemaniku pulang.
oOo


TENTANG PENULIS: Angelita Puspa Rachmawati lahir di Gunungkidul, tumbuh dan berkembang bersama teater ESKA di Yogyakarta, buku, dan perjumpaan dengan banyak sunyi. Ia percaya setiap kata adalah jembatan untuk memahami diri, orang lain, dan dunia yang tak pernah berhenti berubah. Puisinya sering lahir dari pertemuan dengan alam, ingatan, dan pertanyaan yang tak selalu menemukan jawaban. Baginya, menulis adalah cara merawat luka, sekaligus merayakan hidup yang terus berjalan.


PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


