Puisi-puisi tentang ABK oleh Armakalaya

PARA PEWARIS SURGA

Aku terlahir berbeda dengan kalian
Mataku sebelah
Kupingku, juga sebelah
Tanganku, hanya satu
Kakiku, tak sempurna
Lalu …
Masalahmu apa?

Aku masih tetap bisa melihat dengan mata hatiku, kok!
Aku bisa mendengar dengan nuraniku, kok!
Aku masih bisa gosok gigi, pakai baju, makan, minum, pegang remot, main hape
Aku juga pintar melompat, berlari dan menendang bola
Lalu …
Masalahnya apa?

Kamu pandang aku berbeda
Beda apanya?
Kita sama makan nasi, minum dengan gelas,
sekolah, bernyanyi, nonton film, mabar games
Apa bedanya, coba?
Bumi yang kita pijak sama hijau
Langit yang kita junjung sama biru
Tuhan kita pun, sama
Di mana bedanya, hayo!

Mau tahu …
Apa bedanya?
Mau tahu, atau mau tahu bingits?
Sini! Mendekatlah!
Aku bisikkin kepada kalian
Aku bagian dari para pewaris surga

Serang, 19 Juli 2022

Riwayat:
Puisi ini dibuat dan dibacakan spontan dalam rangka memberikan pembekalan mental kepada para orang tua ABK pada perhelatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) para siswa baru SKHN 01 Kota Serang Tahun Ajaran 2022-2023

PARA PENGEJAR ANGIN

Kupastikan /sebelum lantang kuucapkan/
nama mereka sesuai;
asal, nomor dada, dan lintasannya
lalu berbarislah, mereka
siap tandang ‘tuk bertanding

Kuantarkan mereka, kelompok demi kelompok
yang buta, berlari dengan menyimpan matanya
yang tuli, dititipkan telinganya
yang tak berkaki, meluncurkan kursi rodanya
yang idiot, berlari sesuka dan semaunya

Di podium, para pemangku bersorak
memacu akal dan siasat
memainkan waktu, mengejar
nama baik dan penghargaan

Di lintasan berdebu penuh kerikil
anak-anak cacat dipanggang terik
berlari, melempar, dan melompat
memacu otot, nyali dan semangat
beradu cepat mengejar waktu
mencatatkan nama, menorehkan
catatan menembus pekat nurani dunia

Di sisa perhelatan
aku masih menahan lenguh
mengendapkan sisa-sisa letih
mencatat serakan peristiwa
surgalah jua; harapan duniaku
melalui senyum dan tawa mereka
jika tak cacat /nurani kita/
di surga /mereka/ menunggu kita

Serang, 17 Juni 2022

Riwayat:
Puisi ini dibuat terinspirasi saat melihat para ABK se-Banten berlomba atletik pada perhelatan PEPARPEDA BANTEN VII, 13-16 Juni 2022


DELAPAN LEBIH TIGA
untuk Papay

Kau; hari ini
masih dengan tatap yang sama
setahun, dua, tiga, empat tahun lalu
entah kosong, atau penuh makna
hanya kau, yang tahu

Yang kurasakan;
seperti di tahun-tahun lalu
masih tanya yang sama
yang kujawab sendiri;
kau adalah dirimu, dengan duniamu

Tidakkah kaumaksud
betapa inginnya aku bertukar benak denganmu
aku ingin;
tahu yang kaurasa, dan kaumau
kuingin bersemayam di jiwamu
seperti kau dan yang lainnya
selalu menggaruk-garuk benakku

Tanyaku masih sama tentangmu, Papay
gerangan yang dulu kusimpan;
tentang isyarat dan celotehmu

Serang, 18 Juni 2022
__

Riwayat:
Puisi ini dibuat saat menyaksikan Papay, Anak kelas 3 SDLB autis SKHN 01 Kota Serang, sedang belajar praktik Bina Diri mencuci peralatan makan dan minum, bertepatan pula dengan delapan tahun lewat tiga hari kelahirannya

Armakalaya, nama pena dari Agus Helfi Rahman. Pekerjaan sehari-harinya adalah ortopedagog atau guru ABK. Lelaki berdarah Sunda ini, pada 15 April 2073 nanti berumur seribu tahun. Sebagai pengarang, puisi menjadi ladang penyaluran setiap hasrat kegelisahannya. Sesekali bikin cerpen, fiksimini, tatika, pentigraf, dan flasfiction. Selain aktif di banyak komunitas literasi dunia maya di berbagai grup Facebook, juga aktif menginisiasi dan mengembangkan komunitas kepenulisan, khusus di lingkungan guru-guru SLB di Banten. Aktif juga menjadi pembicara pada forum-forum keguruan, umumnya lewat webinar. Karya-karyanya tersebar di 40 buku antologi, baik fiksi maupun nonfiksi

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Terima kasih Redaksi, khususnya kepada Mas Gong, atas pemuatannya di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==