Setiap liburan sekolah, tempat liburanku di Purwakarta. Nasi uduk, perkedel, kupat tahu, mandi di solembat, cikao, ngecrik ikan di irigasi bersama Uwak Sukarma (mantan milisi Siliwangi) sembari makan nasi timbel, ikut jaga toko pakaian Uwak Sukara adalah menu liburannku. Kedua Uwakku ini masih mewarisi ilmu Jawara, warisan dari ayahnya yang berasal dari Caringin, Pandeglang. Bonus liburannya nonton film India di bioskop Raya atau Priangan.

Di Purwakarta, aku menginap di rumah uwak Sukara di Jalan Ibrahim Singadilaga. Di seberangnya ada rumah keluarga Djalinus yang berasal dari Padang. Iwan yang jago badminton dan mirip Rudi Hartono, dan kakaknya yang bernama Yusril Djalinus, pendiri majalah Tempo.

Mereka memiliki toko buku Setia di Pasar Jumat dimana koran dan majalah keluaran Kompas Gramedia dan Tempo dipajang. Literasi di Purwakarta, aku rasa, dimulai dari keluarga Djalinus. Begitulah orang Padang. Kalau tidak membuka rumah makan, maka urusannya adalah dunia baca dan tulis. Keluarga ini (diam-diam) menjadi inspirasiku untuk menekuni badminton dan dunia tulis menulis.

Nah, saat tur Gempa Literasi di 13 kota Jawa Barat, setelah Karawang adalah Purwakarta. Rabu 4 September 2019 pukul 20:00, kami (aku, Rudi Rustiadi, Sirajuddin Abbas, dan Taufik) Pesta Puisi bersama Sanggar Sastra Purwakarta dan Forum TBM, bertempat di halaman Dinas Pendidikan. Kadis, Sekdis, seniman, pemusik, para pegiat literasi, berpesta puisi dengan gembira.

Berlanjut Kamis 5/4/2019, kami menuju SMPN 4 Darangdan, Plered. Sekitar 500 pelajar berdialog tentang literasi. Tentu ada menu pembacaan puisi dari saya, Taufik Hidayatullah, dan para pelajar.

Paling menggembirakan adalah ketika Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Purwakarta memfasilitasi kami dengan akses internet, sehingga kami bisa mengunggah beberapa episode di Karawang. Saya kagum dengan transformasi Perpustakaan Purwakarta ini. Tapi yang lebih menggembirakan, kami berhasil mendokumentasikan Gerakan Literasi Nasional di Purwakarta. Mulai dari wawancara eksklusif dengan KadisDik dan Kadis Perpustakaan, dan Forum TBM,

Klimaks Gempa Literasi di Purwakarta ketika Rudi – Ketua FTBM Purwakarta dan Ali Novel, mempertemukan saya dengan Iwan Djalinus, si Rudi Hartono, sobat masa lalu. Sudah 30 tahun kami tidak bertemu. Kami berbincang-bincang sekitar setengah jam, karena kami harus melanjutkan perjalanan ke Subang.
Jangan lupa, episode tur Gempa Literasi di 13 kota Jawa Barat bisa diikuti di
https://www.youtube.com/channel/UCz1HmI_k41mehS6IoOOEhsA?view_as=subscriber


