Rak Buku: Mengungkap Horor di Sekitar Kita

Tidak hanya itu, kisah seorang nenek sihir jahat berwajah mengerikan atau bahkan makhluk jadi-jadian juga turut mewarnai kisah sastra anak yang diceritakan dari waktu ke waktu. Uniknya, kisah ini justru menjadi metode pendidikan untuk anak pada suatu hal. Seperti larangan, nilai akan kebaikan, dan tentu saja harapan. Sekelumit fakta ini diungkap oleh Manneke Budiman dalam sebuah prolog buku Sastra Horor yang diinisiasi oleh Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI).

Buku ini ditulis oleh 78 akademisi dengan latar belakang berbeda dari berbagai daerah hingga menghasilkan 45 judul penelitian berkaitan sastra horor. Novi Anoegrajekti, Ari Ambarwati, Sudartomo Macaryus, Djoko Saryono, dan I Nyoman Darma Putra didapuk sebagai editor. Mereka berkolaborasi meramu ke-45 tulisan bernas ini ke dalam buku Sastra Horor terbitan Kanisius. Buku ini melengkapi tiga buku sebelumnya berjudul Sastra Maritim, Sastra Rempah, dan Sastra Pariwisata.

Buku setebal 1.010 halaman ini, menguak berbagai perspektif dunia horor yang hidup di tengah masyarakat kita. Baik berupa sastra lisan, tulisan, film, mitos, legenda, hingga kisah-kisah yang dikeramatkan oleh masyarakat tertentu. Editor buku ini membagi pembahasan ke dalam 5 topik besar. Mulai dari horor dalam ritual, horor dalam sastra modern, etnografi horor, horor dalam mantra dan manuskrip, dan (yang terakhir) horor dalam industri kreatif.

Pemaknaan Ulang Sastra Horor

Dalam seni menulis cerita, kepiawaian seorang penulis diuji untuk menghadirkan sensasi tertentu kepada pembaca. Bisa berupa impresi perasaan senang, sedih, nelangsa, takut, hingga rasa teror yang terus menghantui. Jalinan kata hingga kalimat diramu sedemikian rupa untuk mendukung impresi yang dihadirkan. Seperti latar belakang tokoh, peristiwa menegangkan, suasana mencekam, hingga tragedi. 

Peneliti dalam buku Sastra Horor ini begitu jeli melihat elemen horor, lalu menafsirkannya ke dalam berbagai pandangan. Seperti penelitian I Nyoman Darma Putra (hal. 81-99) yang membahas novel “Liak Ngakak” karya Putra Mada (1978) dan alih wahananya berupa film dengan judul yang sama. Menceritakan tentang seorang turis dari Australia yang belajar black magic. Di tahun 1970-an sedang gencar-gencarnya pengembangan pariwisata Bali ke arah pariwisata massal. Hal ini dikhawatirkan menggerus jati diri sosial-budaya masyarakat Bali.

Keberadaan novel dan film “Liak Ngakak” tergolong fenomenal. Meski ada yang mengatakan sepi di tingkat nasional, novel dan film ini justru laris manis di Bali. Terlebih, Putra Mada merupakan penulis berdarah Bali. Film “Liak Ngakak” dianggap memiliki intensitas horor yang tinggi. Penelitian ini mau tidak mau kembali menguak pentingnya menjaga kearifian lokal sebagai identitas diri dan karya yang dihasilkan.

Lain lagi dengan penelitian Andri Wicaksono tentang periode bersiap dalam novel Indonesia. Periode bersiap dalam sejarah Indonesia mengacu pada masa sesudah Jepang menyerah dan saat tentara Sekutu ditugaskan untuk menjaga keamanan sebelum kedatangan tentara Belanda. Pada masa itu, ribuan penduduk sipil Belanda, Indo-Belanda, Tionghoa, dan Ambon menjadi korban berbagai aksi kekerasan oleh pemuda dan milisi Indonesia. Istilah ini memang tidak begitu akrab di Indonesia, tetapi masuk dalam historiografi Belanda.

Dalam penelitian tersebut, Andri Wicaksono membahas tiga novel Indonesia berjudul Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, Keluarga Gerilya karya Pramoedya Ananta Toer, dan Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis. Andri berfokus pada representasi karya sastra yang turut menggambarkan situasi mencekam pada peristiwa sekitar hari kemerdekaan Indonesia. Hal ini diungkap sebagai pelengkap hal-hal yang tidak dibahas dalam buku sejarah Indonesia. Periode tersebut diketahui timbul suasana yang mencekam, penum muram, dan ada yang menganggap sebagai wajah Indonesia di masa awal kemerdekaan.

Secara keseluruhan, horor dalam buku ini bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang memicu perasaan takut, cemas, hingga gelisah yang tak berkesudahan. Karena jika kita kembalikan kata horor ke dalam bahasa Latin, artinya adalah gemetar atau meremangkan bulu roma. Dalam perspektif penelitian buku ini, objek sastra horor tidak melulu pada buku. Tetapi bisa pada cerita lisan, ritual, adat, legenda, tempat yang dianggap “angker”, hingga masuk ke dalam industri kreatif platform youtube dan objek wisata. 

Kiranya, buku Sastra Horor ini bisa dikatakan sebagai salah satu kontribusi emas dari akademisi kita. Karena selain memperkenalkan perspektif baru dalam kajian sastra, buku ini juga bisa menjadi acuan untuk penggalian dengan tema serupa di berbagai tempat atau di berbagai objek yang baru. Maka, kelahiran buku ini patut kita rayakan bersama!

Identitas Buku

Judul : Sastra Horor
Penerbit : PT Kanisius
Cetakan : Pertama, 2024
Tebal : xli + 1.010 halaman
ISBN : 978-979-21-7880-7

Tentang Penulis:

Sapta Arif. Pengajar sastra di STKIP PGRI Ponorogo. Aktif di komunitas Sutejo Spektrum Center (SSC). Pernah menjadi peserta Residensi Penulis Literatutur yang diselenggarakan oleh Yayasan Gang Sebelah bekerja sama dengan Kemendikbud RI. Bisa disapa melalui Instagram @saptaarif

RAK BUKU mulai Mei 2024 tayang satu minggu sekali, setiap hari Rabu.  Rak Buku adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 700 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku,  penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==