Oleh: Ghefira Nur Fatimah
Buku Things Left Behind bukan sekadar buku yang berisi lembaran-lembaran cerita, melainkan juga kumpulan pelajaran berharga yang dapat membangun perspektif baru bagi pembaca tentang kehidupan dan kematian seseorang.
Saat pertama kali membacanya, saya langsung terhanyut. Kalimat pertama, kalimat kedua—wah, nagih! Rasa penasaran membalut diri saya, membuat saya terus ingin berlari ke halaman berikutnya. Begitu seterusnya, hingga tanpa terasa, saya menuntaskan buku ini hanya dalam beberapa jam saja.

Pekerjaan yang Tak Biasa: Membereskan Barang Orang yang Telah Meninggal
Hal pertama yang membuat saya terus penasaran adalah adanya pekerjaan unik yang disebutkan dalam buku ini, yakni membereskan barang-barang orang yang telah meninggal. Ini adalah sesuatu yang baru bagi saya. Sejauh yang saya tahu, di lingkungan tempat tinggal saya, belum pernah saya mendengar profesi semacam ini—atau mungkin saya saja yang tidak mengetahuinya.
Semua kisah yang ditulis dalam buku ini adalah pengalaman nyata dari sang penulis. Awalnya, ia hanya bekerja sebagai pengurus pemakaman, tetapi kemudian menciptakan pekerjaan baru, yaitu jasa membereskan barang-barang orang yang telah tiada. Menurut penulis, pekerjaan ini sangat penting untuk membantu keluarga yang ditinggalkan mengurangi kesedihan dan secara emosional lebih mudah melepas kepergian orang yang mereka cintai.
Kematian Karena Kesepian: Sebuah Fenomena Menyedihkan
Dalam menjalankan pekerjaan ini, penulis menghadapi berbagai sebab kematian, mulai dari bunuh diri, kematian tanpa diketahui siapa pun, hingga kematian yang baru ditemukan setelah berminggu-minggu lamanya. Salah satu tema utama dalam buku Things Left Behind adalah kematian akibat kesepian.
Salah satu kisah yang cukup mengiris hati adalah tentang seorang kakek yang tinggal sendiri karena anaknya bekerja dan menetap di luar negeri. Sang kakek merahasiakan penyakit yang dideritanya agar tidak merepotkan anaknya. Sayangnya, kematian sang kakek tidak langsung diketahui. Anak laki-lakinya baru menyadari ada yang tidak beres ketika panggilannya tak kunjung dijawab berkali-kali. Sebuah kisah yang menyedihkan dan mencerminkan realitas banyak lansia yang hidup dalam kesepian.

Kisah lain yang tak kalah menyentuh adalah kematian seorang nenek yang juga tinggal sendiri karena anak-anaknya telah berumah tangga dan menetap di luar kota. Yang paling menyayat hati adalah reaksi anak-anaknya yang, alih-alih bersedih dan merasa bersalah, justru sibuk mencari harta warisan tanpa sedikit pun merenungi kehilangan ibu mereka.
Dari berbagai kisah ini, saya menyadari satu hal: mereka yang mati dalam kesepian sebenarnya sudah lebih dulu hidup dalam kesepian. Kesepian dalam hidup membawa mereka pada kematian yang juga sunyi. Ini bukan sekadar masalah personal, tetapi juga cerminan dari kurangnya kepedulian keluarga, kerabat, dan lingkungan sekitar.
Selain kematian karena kesepian, buku ini juga mengangkat kisah mereka yang meninggal akibat bunuh diri. Ada yang merasa tertekan karena takut gagal dalam hidup, ada pula yang merasa tidak mampu membahagiakan orang tua mereka. Sayangnya, banyak orang yang mengira bahwa bunuh diri adalah jalan keluar, padahal itu bukan solusi yang tepat.

Penulis menekankan bahwa hidup adalah anugerah yang harus dijalani, bukan diakhiri. Tidak ada satu pun manusia yang lahir ke dunia ini secara kebetulan—keberadaan kita adalah bagian dari rencana Tuhan. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengakhiri hidup sebelum waktunya.
Menyiapkan Kematian dengan Indah: 6 Prinsip yang Dapat Diterapkan
Dari buku Things Left Behind, saya mendapatkan enam prinsip penting yang dapat membantu kita menyiapkan kematian dengan lebih baik:
- Biasakan merapikan barang-barang – Hidup yang tertata rapi mencerminkan ketertiban dalam kehidupan seseorang.
- Jika sulit mengungkapkan sesuatu secara langsung, tuliskan – Tulislah pesan atau surat untuk keluarga, lalu simpan di tempat yang mudah ditemukan.
- Simpan barang-barang penting di tempat yang mudah dijangkau – Agar keluarga tidak kebingungan saat membutuhkannya.
- Jangan merahasiakan penyakit – Berbagilah dengan keluarga agar mereka bisa memberikan dukungan dan bantuan.
- Nikmati apa yang dimiliki – Hidup ini untuk dinikmati, bukan sekadar dihemat atau dikorbankan untuk sesuatu yang belum pasti.
- Hidup untuk diri sendiri, bukan demi orang lain – Jangan selalu berusaha memenuhi ekspektasi orang lain, jalani hidup dengan kebahagiaan sendiri.
Buku Things Left Behind memberikan banyak wawasan dan sudut pandang baru tentang kehidupan dan kematian. Membaca buku ini mengajarkan saya untuk lebih menghargai waktu yang saya miliki, memperbaiki hubungan dengan keluarga dan kerabat, serta menjaga keharmonisan dengan orang-orang di sekitar.
Sebab pada akhirnya, ajal bisa datang kapan saja, dan saat itu tiba, semoga kita dikenang dengan penuh kasih, bukan dalam kesunyian.
Identitas Buku
- Judul: Things Left Behind
- Penulis: Kim Sae Byoul & Jeon Ae Won
- Penerjemah: Anna Lee
- Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
- Genre: Self-Improvement (16+)
- Tebal: 199 Halaman
Tentang Penulis

Ghefira Nur Fatimah, wanita asal Banten kelahiran 2002 yang sangat menyukai sastra, seni, dan media digital. Aktif menulis sejak bangku SMP, saat ini sedang menekuni bidang kepenulisan, seperti copywriting, content writing, dan jurnalistik. Pernah menjadi jurnalis magang di media detikcom kanal detikHealth. Dapat dijumpai melalui Instagram @gefiranf atau email ghefiranft@gmail.com.

RAK BUKU mulai Mei 2024 tayang satu minggu sekali, setiap hari Rabu. Rak Buku adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 700 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku.


