Entah takhayul yang dibuat Remy dalam novel ini sebuah kelebihan atau kekurangan, tetapi saya ingin mengatakan bahwa ini adalah sebuah kekurangan.
Takhayul itu berangkat dari mimpi tokoh pertama Myrna. Ia terganggu dengan kembang tidurnya sehingga ia mengadukan mimpinya itu kepada Shinta—ipar Myrna dari bekas suaminya Andiono.

Shinta membawa Myrna ke seorang yang dianggapnya pakar cenayang. Sialnya, dalam ramalan yang dilakukan oleh Cik Susianti, Shinta menyamakan dengan kisah Nabi Yusuf yang berhasil menjawab mimpi seorang raja.
“Mustahil? Ceuceu lupa kisah kitab suci tentang Yusuf di tanah Mesir? Dia diangkat menjadi menteri oleh raja kafir Firaun, sebab dia berhasil menerjemahkan mimpi sang raja, dan ternyata mimpi itu benar-benar terwujud.” (209).
Jelas manusia biasa dan wakil Tuhan yang diberi wahyu tidak sekonyong-konyong dapat disetarakan. Terlebih, ramalan Cik Susianti dari awal sampai akhir dari buku ini tidak ada yang meleset sama sekali. Dan memang sempurna sesuai apa yang diucapkan Cik Susianti.
Bahkan bisa dibilang bahwa ramalan mimpi yang dilakukan oleh Cik Susianti merupakan kisi-kisi menjadi alur cerita dalam buku ini. Anda akan tahu nasib Myrna seperti apa setelah dia menyetorkan mimpinya itu.
Intinya, saat diramalkan akan mendapat sial, keberuntungan, dan kepedihan hati yang mendalam sama sekali tidak meleset—dan itulah alur ceritanya. Bagi manusia yang tidak percaya takhayul, kita akan mengatakan bahwa ramalannya itu akan meleset.
Mungkin itu juga kelebihan Remy, sebab manusia Indonesia yang terdidik kurang begitu percaya pada takhayul sehingga saat membaca cerita yang jelas-jelas sudah dibocorkan, tetapi kita mengatakan bahwa “ramalan mimpi Cik Susianti tidak betul semua”.

