Penulis juga gencar menyuarakan kesetaraan melalui karakter Alina Suhita yang sering memberikan ruang diskusi kepada para santri, putra maupun putri.
Alina Suhita juga memberikan fasilitas yang sama dalam proses pembelajaran kepada semua santri tanpa membedakan gender. Alina menjadi sosok sentral yang memberikan banyak kontribusi untuk kemajuan Pondok Pesantren Al Anwar.

Walau film ini dibuat dengan sangat apik, kekurangan dan kritikan tentu saja akan selalu ada. Bagi saya, sebagai orang yang pernah tinggal di Pondok Pesantren dengan waktu yang cukup lama, suasana pesantren pada film Hati Suhita masih sangat kurang, sedikit sekali scene yang menceritakan kegiatan di Pondok seperti sholat berjama’ah, bersih-bersih lingkungan pondok dan lain sebagainya. Sehingga suasana Pesantrennya hanya sebatas formalitas saja.

Padahal harapan kami sebagai santri, film ini bisa menjadi alat promosi dan bisa mematahkan prasangka-prasangka buruk yang ditujukan kepada lembaga pondok pesantren, sebagai lembaga yang paling sering melakukan kekerasan fisik ataupun kekerasan seksual. Dan bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pondok pesantren.


