Gol A Gong dan Rumah Dunia adalah inspirasi, role model, atau “kiblat” bagiku. Rasanya aku memiliki kecintaan yang sama dengan sosok yang menjadi Duta Baca Indonesia tersebut. Sama-sama menyenangi buku, bersentuhan dengan teks sepanjang waktu, petualang, kreatif, inspiratif.
Dulu sejak SMP, aku siswa medioker yang senang ke perpustakaan, meski sering ranking terakhir, tapi aku senang meminjam buku.

Suatu hari pertugas perpustakaan menyortir buku-buku lama. Buku tersebut hendak dibuang. Aku meminta buku sortiran tersebut. Setelah dikasih pengelola perpustakaan, aku menyimpannya di rak buku yang tepat berada di ranjang tidurku.
Sepanjang hari aku terus membaca. Waktu kuliah aku mulai gila membeli buku. Hingga bergabung dengan Koran kampus untuk mencari jati diriku.

Aku membuat tabloid di kampusku. Jadi Pemred merangkap wartawan, karikaturis, manajer iklan. Hingga ketika tabloid tersebut dicetak, aku sendiri yang mengantarkan ke fakultas-fakultas dengan jalan kaki. Rutinitas gila saat menjadi mahasiswa ketika itu belum pernah aku temukan di kampus lain hingga hari ini. Akibatnya, aku hampir terancam drop out.
Bersambung ke bagian 2



