“Saat saya diamanahi sebagai Duta Baca Indonesia, saya ingin sekarang setiap saya melakukan kunjungan kerja literasi di daerah-daerah, tidak lagi hanya sebatas narasi, tapi lebih pada ke aksi,” kata Gong, Sabtu (17/11/2022).

Selain Gong, Toto ST Radik juga berbagi pengalaman soal dunia tulis-menulis, bahwa kegiatan menulis itu sesungguhnya bisa dilakukan ketika kita sudah melewati tahap membaca buku berkali-kali. “Karena dari proses membaca itulah, nantinya kita akan bisa menulis. Tapi, sekarang ini kita sudah melompat ke kebiasaan lain. Yang harusnya membaca dulu, tapi ke kebiasan menonton tik-tok, YouTube dan lain sebagainya,” paparnya.

Sedangkan Rahmat Heldy HS menerangkan soal cara mudah menulis puisi. Bahwa menulis puiai itu tidak mesti dari hal-hal yang jauh dari jangkauan kita. “Tapi, tulis saja hal-hal yang dekat dengan kita, seperti tentang kegiatan sehari-hari saat di dapur itu juga bisa dijadikan puisi,” kata Duta Baca Provinsi Banten.

Dalam kesemtan tersebut, para pegiat literasi juga mendiskuiskan banyak hal kepada Gol A Gong dan tim Safari Literasi. Mulai dari yang menanyakan soal Bunda Literasi, pemilihan Duta Baca Lampung yang tiba-tiba jadi tanpa adanya seleksi pemilihan dan lain-lain.

Gol A Gong kemudian menantang para pegiat literasi itu untuk membuat tulisan yang nanti menjadi buku antologi. “Sekarang saya menatang teman-teman di sini, untuk menulis satu cerita apa saja. Bisa soal cerita rakyat, atau apa saja. Nanti tahun depan coba kita ajukan kepada Perpusnas RI,” tantang Gong.

Para peserta terlihat antusias dan mengaku siap membuat satu tulisan untuk dibukukan nantinya. Salah satu pegiat literasi, Muhamad Hamdani dari TBM Perahu Pustaka Lampung, mengaku bersyukur bisa berdiskusi dengan DBI Gol A Gong dan tim Safari Literasi.

“Ada yang menarik dari diskusi ini, bagaimana Mas Gol A Gong sebagai DBI mengajak untuk bergerak dari narasi ke aksi. Sesuatu yang memang dibutuhkan saat ini. Kita berharap mudah-mudahan ini menjadi sebuah icon yang baru untuk temen-teman pegiat TBM yang ada di Indonesia dan menyemangati kita semua agar gerakan membaca dan literasi ini menjadi lebih baik lagi,” kata Hamdani usai acara.

Di tempat yang sama, Hayu Kumala, dari komunitas penulis kreatif Lampung Selatan mengaku tertantang untuk menuliskan satu cerita yang nanti akan dibukukan.

“Di sini saya mengikti kegiatan safari literasi mas Gong, dari diskusi tadi kami mendapatkan wawasan baru seputar literasi, khususnya untuk pemilihan Duta Baca di wilayah kami, yang menurut beliau masih kurang tepat. Kemudian kami juga dapat tantangan untuk menuliskan buku, kita bikin antologi cerita rakyat,” tutup Kumala.




