Bayangkan saja, saya berada di antara anak pejabat yang rata-rata bertubuh sempurna, intelektual, secara ekonomi berkecukupan, anak lelakinya ganteng, anak perempuannya cantik. Sedangkan saya cacat! Tapi saya beruntung, karena mereka berpendidikan sehingga tidak diskrimintif kepada saya. Kami berkompetisi denan fair.


Bapak dan Emak mengenalkan saya pada buku. Sejak 1975, saya tenggelam dengan buku. Saya bergelut dengan buku. Saya jadi tidak begitu menyukai belajar di dalam kelas. Kecemasan bahwa masa depan saya akan suram sebagai orang cacat terus saya lawan. Ibarat para penyintas kanker, saya berusaha melawannya.

Alhamdulillah, berkat buku saya jadi berdaya. Saya bisa mengatasi kecemasan itu – bahwa sebagai orang cacat akan jadi beban masyarakat. Secara akademis saya memang tidak mentereng. Saya hanya pernah kuliah hingga semester 5 di Fakultas Sastra UNPAD Bandung (1982-1985).
Berdaya dengan buku!
Gol A Gong



