Namanya anak kecil, melihat badan suamiku yang tinggi besar dan berambut gondrong, ada di antara anak-anak itu yang ketakutan. Hahaha. Belum lagi ketika melihat dari dekat lengan suamiku hanya sesiku. Bertambahlah ketakutan anak-anak yang sudah takut sejak awal bertemu.

Suamiku yang sudah biasa menghadapi anak-anak yang memandang heran ke tangannya hanya tertawa. Beliau menyapa anak-anak dengan ramah dan itu sedikit melegakan yang tadi ketakutan. Hahaha.
Namun, agak sulit membiarkan akses ke teras belakang terbuka lebar saat kami bepergian. Jadi kami mengakali dengan memindahkan rak buku kecil itu ke teras depan sementara kami bepergian. Suamiku membiarkan saja aku repot memindahkan rak buku setiap kami mau pergi.

Aku juga agak berkeras demi anak-anak yang sedang senang-senangnya membaca. Kukatakan bahwa aku nggak mau kehilangan waktu berharga mereka. Selama akses membaca buku tetap mudah, aku akan lakukan meski harus repot. Untunglah suamiku setuju, mungkin biar aku tidak cemberut jika dilarang. Hahaha.
Hari-hari pun berjalan dengan biasa, kegiatan membaca tak selalu terlaksana setiap hari. Aku juga tidak mengharuskan anak-anak datang. Sesuka mereka saja, yang penting mereka tahu kewajiban membereskan setelah kegiatan.

Pertengahan tahun 1999 aku melahirkan anak kedua. Aku mulai sibuk mengurus dua anak, jadi kegiatan membaca sering kulewati. Anak-anak mungkin menjadi sungkan datang. Mereka hanya sesekali muncul, itu pun sebentar. Aku agak sedih melihatnya, tapi juga menyadarai ketidakmampuanku menemani mereka.
Tapi kami masih bertegur sapa saat kami jalan pagi membawa dua anak dan melewati rumah mereka. Aku tidak segan memanggil dan menyapa mereka lebih dulu. Ada juga yang kemudian menjadi malu dan enggan menyapa duluan. Aku memaklumi itu semua.

Kemudian kegiatan menjadi terhenti. Rak buku kecil pun kembali masuk ruang tengah, kembali diisi dengan buku anak koleksi Bella dan Gab, adiknya. Nyaris dua tahun aku tidak aktif menggelar kegiatan bersama anak-anak sekitar. Namun aku menyambut mereka ketika ingin membaca. Hanya bukunya kuangkut ke teras depan, setelah selesai kumasukkan lagi ke dalam. Begitu saja jika mereka datang.
Tentu saja mereka senang ketika melihat bayi keduaku. Bella pun sudah bisa mereka ajak ngobrol. Memang bisa dihitung dengan jari peristiwa seperti itu. Anak-anak yang besar pun mulai menyiapkan diri menghadapi ujian kelulusan Sekolah Dasar. Lainnya sudah sibuk dengan kegiatannya sendiri.


