Keberadaan dua pohon jambu batu itu pernah kudengar dari beberapa tetangga yang suka mengambil daun pisang sewaktu tanah belum kami beli. Kata mereka, buah jambu batunya manis dan ukurannya besar-besar. Sayang, berbuah sedikit, paling banyak empat butir.
Beruntung aku juga sempat mencicipinya saat para tukang membabat ilalang. Mereka memetik jambu yang masih mengkal. Melihat itu, aku minta sebutir jambu merah. Benarlah, rasanya manis dan segar, walaupun warna daging buahnya tidak semerah iklan jus jambu batu di televisi.

Dua buah pohon jambu batu ini kerap menjadi sasaran anak-anak yang berkunjung untuk sikut kegiatan. Awalnya mereka sudah nangkring di atas pohon jambu sebelum aku datang. Dengan santai mereka mengambil jambu yang masih mentah dan langsung memakannya.
Aku lalu mengumpulkan mereka dan meminta mereka bilang dulu kalau mau ambil. Itu mereka turuti, tapi kemudian yang naik pohon jambu berebutan.

Aku lalu mengoreksi aturan, yang naik harus mengambilkan untuk temannya. Mereka berhenti berebutan dan memilih menunggu teman yang baik pohon. Tapi akibatnya saling teriak menunjuk buah jambu di sana-sini. Sungguh aku tak tahu lagi harus bilang apa lagi.
Suamiku tertawa saat aku bercerita begitu beliau pulang di akhir pekan. Bella dan Gab juga ribut bercerita kelakuan teman-teman kecilnya.

“Mamah, mulai minggu depan tolong tulis pengalaman Mamah mengajar anak-anak itu, ya,” kata suamiku serius.
“Oke, sebisanya aku, kan?” tanyaku memastikan.
“Setiap hari kalau bisa. Jadi Papah pulang tinggal baca.” Begitu pinta suamiku.
“Nggak usah panjang-panjang, kan?”
“Ya, pendek saja, setiap hari. Nanti kalau disatukan selama seminggu ‘kan jadi tulisan panjang.”
Baiklah. Aku akhirnya menulis beberapa poin hari-hari mengajar di belakang rumah. Nama tempat kami mulai kukenalkan ke anak-anak itu.

Pustakaloka Rumah Dunia, akhirnya nama itu yang digaungkan. Aku menyingkatnya “Pstk RD”, tetapi suamiku dan teman-temannya lebih memilih “PRD”.
Aku berkilah orang bisa menganggap kami terkait Partai Rakyat Demokrat pimpinan Budiman Sujatmiko – partai yang sedang naik daun. Masalahnya partai itu dipandang vokal terhadap kebijakan pemerintah dan isu-isu politik, aku khawatir Rumah Dunia akan terkena imbasnya.

“Tidak apa-apa,” kata suamiku menenangkan. “Mamah tenang saja.”
Jadi ya sudahlah, aku memilih mengalah dan mendoakan saja. Tentu saja sambil mengawasi segala sesuatu agar tetap aman, terutama di jalur-Nya.
*) Tias Tatanka, Rumah Dunia 10 Maret 2024


