“Mamah sudah ikhlas belum melepas mainan ini di sini?” tanya suamiku serius. Aku tidak mampu menjawab.
“Kalau belum ikhlas, simpan lagi aja,” tambahnya, masih serius.
“Iya, udah ikhlas.” Kataku cepat dan berusaha menepatinya.
“Dengan mainan ini, anak-anak akan mendekat,” kata suamiku lagi.

Aku ingin mendebat, tapi sadar, pasti ada rencana istimewa suami sampai ia minta mainan bekas anak-anak. Akhirnya aku menurut saja ketika ia meletakkan keranjang mainan di saung tanpa alas duduk itu.
“Tugas Mamah hanya mengingatkan ke anak-anak itu, boleh main sebentar, lalu ikut kegiatan,” kata suamiku yakin.
Aku diam dan berusaha mencerna pesan-Nya yang dikirim lewat kata-kata suamiku.

Esok siangnya, anak-anak seperti mendapat kejutan dengan adanya setumpuk mainan itu. Kendati hanya berupa robot yang sudah rusak, atau boneka Barbie yang rambutnya sudah gimbal dan wajah penuh coretan spidol, anak-anak tetap suka memainkannya.
Setelah mereka bermain-main, amat mudah bagiku untuk merebut perhatian mereka ke kegiatan. Lumayan efektif anak-anak itu belajar, karena ingin segera rehat dan bermain di saung.
Rumah Dunia, 11 Maret 2024




