Sampai akhirnya aku lupa mengeluarkan karpet dan buku-buku, kembali ke rutinitas bermain dan belajar bersama Bella, anak pertama kami. Sesekali mengajak Bella naik becak, berkunjung ke kakek dan neneknya.

Saat suamiku pulang di akhir pekan, seperti biasa kami jalan pagi ke sekitar. Biasanya kami membeli nasi uduk dan beberapa potong gorengan untuk lauk. Untuk menyeimbangkan asupan, aku membuat dadar telur sebagai lauk tambahan.

Dengan menggunakan ransel gendong khusus untuk balita, suamiku memanggul Bella. Aku lenggang berjalan sambil membawa bekal. Tujuan kami adalah sungai di belakang komplek rumah. Ada batu-batu besar di pinggir sungai kecil itu. Batu-batu itu di sering digunakan ibu-ibu mengucek baju saat mereka mencuci.

Biasanya kami mencari batu yang kering yang tidak digunakan para ibu. Di sanalah kami buka bekal, dan menawari ibu-ibu itu ikut sarapan. Tentu saja hanya basa-basi, karena bekal kami hanya cukup untuk berdua. Hahaha.

Saat pulang, kami berjalan memutari kampung, untuk mencari pemandangan dan pengalaman berbeda. Ada banyak jalan tikus di kampung dekat rumah kami, dan menjadi petualangan tersendiri. Senang saja rasanya menemukan hal-hal baru.

Nah, saat berjalan melewati gang-gang kecil itu, beberapa kali aku dipanggil oleh anak-anak.
“Bu Bella! Bu Bella!” seru beberapa anak dari beberapa rumah yang kulewati.
Oh, ternyata mereka yang biasa datang ke rumah! Seketika aku merasa kangen dengan celoteh mereka.
“Kok nggak main ke rumah Bella lagi?” tanyaku heran.
“Sekolah agama kalau sore, Bu!” begitu rata-rata jawabannya.
“Oo…” Akhirnya aku menemukan jawaban ketidakhadiran anak-anak itu.
Ya sudah, mereka punya kegiatan sendiri, jadi jangan berharap banyak, begitu batinku.

“Emang masih boleh main ke rumah Bella?” tanya seorang anak dari depan pintu rumahnya.
“Boleh, dong!” jawabku sambil tertawa. Sebuah pertanyaan aneh buatku, tapi beralasan buat mereka. Ini kuketahui setelah berminggu-minggu mengenal anak-anak itu.

Sebenarnya akan lebih mudah dan cepat sampai rumah jika kami melalui jalan utama kampung Ciloang. Tapi suamiku yang mantan petualang itu mengajak melewati gang-gang kecil yang tidak jarang membuat kami menyapa dan minta izin untuk lewat. Dengan cara seperti itu, kami semakin mengenal kampung Ciloang.

Sesekali kami berhenti untuk berbincang dengan warga, sekadar bertanya ini itu. Aku tahu itu bukan percakapan penting, tetapi mendengar suara berdialek khas setempat sungguh menyenangkan!
Saat melewati jalan utama itu, aku bertemu dengan anak-anak yang sering ke rumah. Aku langsung melambaikan tangan karena tiba-tiba saja kangen mengobrol dengan mereka. Sekian detik mereka terpaku, lalu tersenyum malu.

Aku sendiri heran melihat respon mereka, ada ketakutan sikapku salah. Ketika kukatakan hal ini ke suami, beliau menjawab, “Justru itu karena kita telah meng-orang-kan anak-anak itu.”
Sebuah jawaban yang rumit menurutku yang baru dapat kumengerti di hari-hari setelahnya, bahkan setelah lama berinteraksi. Anak-anak pun perlu diterima dan diakui keberadaannya oleh orang dewasa. Penerimaan dan pengakuan ini harus disertai dengan sikap dan kata-kata. Jadi tidak cukup dengan senyum dan bahasa kalbu.


